PULANG

Raihan Langit
Chapter #19

Bab 18 : Telepon Untuk Ayah

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Bukan karena Sandah.

Bukan karena suara dari hutan.

Bukan pula karena kemungkinan ada sesuatu yang tinggal di dalam darahku.

Aku hanya...

rindu rumah.

Sudah lama sekali aku tidak memikirkan kampung halaman dengan serius. Selama ini aku selalu menganggap rumah sebagai sesuatu yang akan tetap ada.

Ayah masih ada, Ibu masih ada, rumah masih berdiri, pohon mangga di depan rumah masih tumbuh, dan sandal jepitku yang hilang entah ke mana mungkin masih menjadi misteri keluarga.

Aku mengambil handphone.

Tidak ada sinyal.

Aku mengangkatnya tinggi-tinggi.

Tidak ada.

Aku berjalan keluar.

Satu batang.

Hilang.

Dua batang.

Hilang.

Tiga batang.

Aku berdiri di atas kursi.

Masih hilang.

Aku menatap langit.

"Kalau sinyal bisa melihat saya, tolong kasihanilah."

Tidak ada jawaban.

Aku turun.

Kemudian teringat sesuatu.

Di belakang mess ada sebuah pohon tinggi.

Warga pernah mengatakan kalau berdiri di sana, kadang-kadang sinyal muncul.

Aku berjalan ke sana.

Malam itu gelap, tetapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin mendengar suara rumah.

Aku berdiri di bawah pohon.

Mengangkat handphone.

Satu batang.

Aku langsung membuka kontak.

Ayah.

Jari-jariku sempat berhenti.

Kemudian aku menekan panggil.

Nada sambung terdengar.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Lalu suara yang sangat kukenal menjawab.

"Hallo?"

Aku langsung tersenyum.

"Yah."

"Panji?"

"Iya."

"Kamu di mana?"

Aku tertawa kecil.

"Di tempat kerja."

Ayah diam sebentar.

"Kok malam-malam telepon?"

Aku tidak menjawab, aku hanya ingin mendengar suaranya.

"Sudah makan?"

Aku tersenyum.

"Sudah."

Ayah bertanya lagi,

"Sehat?"

"Sehat."

"Kerjaan baik?"

"Baik."

"Jangan lupa salat."

Aku mengangguk meskipun dia tidak bisa melihat.

"Iya."

Kemudian suara ibu terdengar dari kejauhan.

"Siapa?"

Ayah menjawab,

"Panji."

Terdengar suara ibu.

"Panji?"

Aku tersenyum lebih lebar.

"Iya, Bu."

"Sudah makan?"

Aku tertawa.

"Iya."

Lihat selengkapnya