PULANG

Raihan Langit
Chapter #20

Bab 19 : Cerita yang Hilang

Pagi setelah menelepon ayahku, aku bangun dengan keputusan yang sangat matang.

Aku akan pulang.

Bukan untuk mencari hantu.

Bukan untuk mencari jawaban.

Bukan pula untuk menyelidiki masa laluku.

Aku hanya ingin bertemu Ayah dan Ibu.

Sesederhana itu.

Masalahnya, ada satu kendala kecil.

Aku bekerja di tempat yang kalau ingin pulang, harus melewati perjalanan yang cukup panjang, sementara atasanku mungkin akan bertanya kenapa teknisi listriknya mendadak menghilang.

Dan aku belum menemukan alasan yang cukup profesional untuk menjawab:

"Pak, saya pulang karena hutan mulai memanggil nama saya."

Jadi aku menunggu.

Setidaknya sampai pekerjaan selesai.

***

"Panji."

Aku sedang memasukkan peralatan ke dalam tas ketika Mas Tri muncul.

"Iya?"

"Kau mau pulang?"

Aku menoleh.

"Mas tahu?"

"Kelihatan dari wajahmu."

"Wajah saya kenapa?"

"Seperti orang yang sedang menghitung beberapa hari lagi Lebaran."

Aku tertawa.

"Saya cuma kangen rumah."

Mas Tri mengangguk.

"Itu normal."

Aku tersenyum.

"Mas juga kangen rumah?"

Dia diam.

Kemudian berkata,

"Enggak."

"Kenapa?"

"Rumahku penuh masalah."

Aku menatapnya.

"Kalau begitu kangenlah pada masalahnya, Mas?"

"Kau jangan cari perkara."

Aku tertawa.

***

Siang itu kami bekerja di bagian lain jaringan listrik. Aku berusaha melupakan semua kejadian beberapa hari terakhir.

Tidak mudah.

Setiap melihat tanah, aku teringat darah.

Setiap melihat hutan, aku teringat suara.

Setiap melihat jendela, aku teringat Sandah.

Dan setiap melihat perempuan cantik... aku teringat Nyi Sari.

Yang terakhir tentu saja tidak terlalu buruk, setidaknya begitu pikirku.

Namun ketika aku sedang bekerja, seorang anak kecil lewat.

Dia berhenti lalu menatapku.

Kemudian ia berkata,

"Bang Panji."

"Iya?"

"Abang mau pulang?"

Aku mengangguk.

"Mungkin."

Dia tersenyum.

"Jangan."

Aku tertawa.

"Kenapa?"

Dia tidak menjawab.

Hanya berlari pergi.

Aku memperhatikannya.

Mas Tri datang dari belakang.

"Anak itu kenapa?"

"Katanya saya jangan pulang."

Mas Tri mengangkat bahu.

"Anak kecil."

Aku mengangguk.

Namun beberapa langkah kemudian, aku mendengar sesuatu.

Panji...

Aku berhenti.

Mas Tri terus berjalan.

Aku menatap hutan.

Tidak ada siapa-siapa.

Aku menghela napas.

***

Sore harinya, aku mendapat kabar dari kampung.

Ibu menelepon.

Aku langsung mengangkat.

"Bu?"

"Panji."

"Iya."

"Kapan pulang?"

Aku tersenyum.

"Belum tahu."

"Kalau bisa jangan lama."

"Kenapa?"

Ibu diam sebentar.

Kemudian berkata,

"Ayahmu sakit sedikit."

Aku langsung duduk.

"Sakit apa?"

"Batuk."

Lihat selengkapnya