Aku tidak tidur malam itu.
Foto itu terus berada di tanganku.
Aku membolak-baliknya berkali-kali.
Seolah-olah dengan melihatnya cukup lama, tiba-tiba seseorang akan muncul dari dalam foto dan menjelaskan semuanya.
Sayangnya, teknologi fotografi belum sampai pada tahap itu.
Aku bahkan sempat berpikir untuk bertanya kepada Mas Tri.
Namun urung.
Entah kenapa aku merasa foto itu bukan sesuatu yang boleh dilihat sembarang orang.
Terutama Mas Tri.
Orang itu kalau melihat foto hantu mungkin pertanyaan pertamanya bukan "Siapa dia?"
Melainkan:
"Bisa dicetak ukuran 4R?"
Jadi aku menyimpannya kembali.
Besok aku akan pulang.
Aku harus bertanya kepada Ayah.
Pagi harinya aku menemui Mas Tri.
"Aku mau pulang."
Dia sedang minum kopi.
"Kapan?"
"Begitu ada kendaraan."
Dia mengangguk.
"Kenapa?"
Aku diam sebentar.
"Rindu rumah."
Mas Tri menatapku.
Kemudian berkata,
"Ya sudah."
Aku sedikit heran.
"Kok gampang?"
Dia mengangkat bahu.
"Kalau aku melarang, memangnya kau akan batal?"
"Enggak."
"Nah."
Aku tertawa.
Kemudian dia menatapku.
"Tapi Panji..."
"Iya?"
"Jangan pulang karena takut."
Aku terdiam.
"Aku pulang karena rindu."
"Bagus."
Dia menepuk bahuku.
"Karena kalau kau pulang karena takut, berarti kau membawa Riam Gaib ke rumahmu."
Kalimat itu membuatku diam cukup lama.
***
Perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang daripada biasanya.
Mungkin karena pikiranku penuh.
Aku melihat sungai.
Aku teringat mimpi.
Aku melihat hutan.
Aku teringat suara.
Aku melihat tanah.
Aku teringat darah.
Dan setiap kali memejamkan mata...
aku melihat foto itu.
Seorang anak kecil.
Berdiri di tepi sungai.
Memegang tangan seorang perempuan yang wajahnya tidak terlihat.
Aku tidak tahu siapa dia.
Tetapi ada sesuatu dalam foto itu yang membuat dadaku sesak.
Bukan takut.
Rindu.
Padahal aku bahkan tidak mengenal perempuan itu.
***
Ketika akhirnya aku sampai di kampung, matahari hampir tenggelam.
Aku melihat rumah dari kejauhan.
Rumah yang sangat kukenal.
Pohon mangga masih ada.
Pagar masih sama.
Bahkan kursi tua di teras masih berada di tempatnya.
Aku berdiri cukup lama.
Entah kenapa mataku panas.
Kemudian pintu terbuka.
Ibu keluar.
Begitu melihatku, dia langsung tersenyum.
"Panji!"
Aku tersenyum.
"Bu."
Aku berjalan mendekat.
Ibu memelukku.
Dan entah kenapa...
aku tiba-tiba merasa seperti anak kecil lagi.
Aku memejamkan mata.
Bau pakaian Ibu.
Hangat tubuhnya.
Semua terasa familiar.
Aku hampir menangis.
Kemudian Ibu memukul lenganku.
"Kurus."
Aku tertawa.
"Baru juga ketemu sudah menghina."
"Memang kurus."
"Aku sehat."
"Ya."
Ibu memegang wajahku.
"Makan dulu."
Aku tersenyum.
"Iya."
Dari dalam rumah terdengar suara Ayah.
"Panji pulang?"
"Iya, Yah."
Ayah keluar.
Wajahnya terlihat lebih tua daripada terakhir kali aku melihatnya.
Aku memeluknya.