Pagi itu aku bangun dengan satu kesimpulan.
Aku membutuhkan kopi.
Banyak.
Karena ternyata mencari tahu masa lalu sendiri jauh lebih melelahkan daripada mencari kabel listrik putus.
Kabel putus paling tidak memiliki dua ujung.
Masa lalu tidak.
Kadang-kadang ia bahkan tidak punya bentuk.
Aku turun ke dapur.
Ibu sedang membuat sarapan.
"Sudah bangun?"
"Sudah, Bu."
"Semalam tidur?"
"Sedikit."
Ibu menoleh.
"Kenapa?"
Aku tersenyum.
"Memikirkan masa depan."
Ibu tertawa.
"Jangan bohong. Wajahmu seperti orang habis melihat setan."
Aku hampir menjatuhkan sendok.
Ibu tidak tahu betapa tepatnya perkataannya.
Aku duduk.
Ibu meletakkan nasi di depanku.
"Makanlah."
Aku menurut.
Beberapa menit kami hanya diam.
Aku memandangi tangan Ibu.
Tangan yang dulu sering mengusap kepalaku.
Tangan yang dulu menggendongku ketika demam.
Tangan yang sekarang mulai memperlihatkan garis-garis usia.
Tiba-tiba aku merasa bersalah.
Selama ini aku terlalu sibuk mencari jawaban sampai lupa bahwa mungkin ada orang yang jauh lebih takut daripada aku.
"Bu."
"Ya?"
"Kalau waktu kecil saya hilang..."
Ibu langsung berhenti.
Sendok di tangannya tidak bergerak.
Aku melanjutkan,
"Ibu pasti takut sekali?"
Dia tersenyum kecil.
"Jangan dibicarakan."
"Kenapa?"
"Sudah lama."
Aku menatapnya.
"Berapa umur saya waktu itu?"
Ibu menunduk.
"Enam tahun."
Aku mengangguk.
"Amang Julak bilang tujuh."
Ibu langsung menatapku.
Aku membeku.
Dia tidak berkata apa-apa.
Aku juga diam.
Akhirnya aku bertanya,
"Bu..."
"Iya?"
"Siapa Amang Julak?"
Wajah Ibu berubah.
Aku langsung tahu.
Nama itu seharusnya tidak kukatakan.
"Dia siapa, Bu?"
Ibu kembali menata piring.
"Orang tua di kampung."
"Di Riam Gaib?"
Tidak ada jawaban.
"Bu."
"Ibu tidak tahu."
Aku tertawa kecil.
"Ibu pasti tahu."
Dia menatapku.
Matanya berkaca-kaca.
"Ada beberapa hal yang lebih baik tidak kau cari."
Aku menghela napas.
"Kenapa?"
"Karena kau sudah selamat."
Aku terdiam.
Ibu menyentuh tanganku.
"Panji."
"Iya?"
"Kadang-kadang hidup tidak perlu tahu semuanya."
Aku menatap wajahnya.
"Kalau sesuatu itu berkaitan dengan saya?"
Ibu tersenyum sedih.
"Justru karena itu."
Aku tidak sanggup membalas.
Aku hanya menggenggam tangannya.
Dan untuk beberapa saat...
aku tidak ingin menjadi seorang penyelidik.
Aku hanya ingin menjadi anak.
"Bu."
"Hm?"
"Aku sayang Ibu."
Ibu tertawa sambil mengusap air matanya.
"Baru pulang sudah aneh."
Aku ikut tertawa.
"Serius."
"Ibu juga sayang."
Kemudian dia mencubit pipiku.
"Walaupun dari kecil keras kepala."
Aku mengusap pipiku.
"Kenapa semua ibu selalu punya cara untuk mengejek anaknya?"
Ibu tertawa.
Suasana menjadi ringan kembali.
Namun ketika aku hendak berdiri...
Ibu berkata pelan,
"Jangan pernah menyalahkan Ayahmu."
Aku berhenti.