Perjalanan kembali ke Riam Gaib terasa berbeda.
Ketika berangkat dari sana beberapa hari sebelumnya, aku hanya seorang petugas PLN yang ingin pulang menemui orang tua.
Sekarang aku kembali sebagai seseorang yang membawa terlalu banyak pertanyaan.
Dan hampir tidak memiliki jawaban.
Aku membawa satu foto.
Satu lembar kertas tua.
Dan sebuah ingatan yang bahkan aku sendiri tidak yakin benar-benar milikku.
Masalahnya, aku juga membawa satu benda lain.
Ketakutan.
Benda itu tidak kelihatan.
Tidak bisa dimasukkan ke tas.
Tidak bisa dititipkan kepada sopir.
Dan yang paling menyebalkan...
tidak bisa ditinggal di rumah.
***
Ketika kendaraan berhenti di dekat jalan masuk menuju Riam Gaib, aku turun.
Udara hutan langsung menyambutku.
Aku menarik napas.
Aneh.
Begitu menghirup udara itu, dadaku terasa sesak.
Bukan karena udara buruk.
Justru sebaliknya.
Udara itu terasa sangat familiar.
Aku berdiri beberapa saat.
Kemudian Mas Tri muncul.
"Kau kenapa?"
"Enggak apa-apa."
"Seperti melihat mantan."
Aku menoleh.
"Mas."
"Hm?"
"Kalau saya melihat mantan, saya mungkin masih bisa kabur."
Mas Tri tertawa.
"Itu masuk akal."
Aku tersenyum.
Namun ketika kami berjalan...
aku mendengar sesuatu.
Panji...
Aku berhenti.
Mas Tri terus berjalan.
Aku menatap hutan.
Tidak ada apa-apa.
Suara itu terdengar lagi.
Panji...
Aku menarik napas.
Tidak menjawab.
Lalu...
aku merasa seperti ada sesuatu yang berbisik tepat di telingaku.
"Kau kembali."
Aku menoleh cepat.
Kosong.
Aku menyusul Mas Tri.
***
Ketika sampai di mess, Amang Julak sudah menunggu.
Acil Ratna juga ada.
Aku baru beberapa langkah ketika Amang Julak berkata,
"Sudah kembali."
Aku berhenti.
"Iya, Mang."
Dia tersenyum.
"Bagaimana di rumah?"
Aku menjawab,
"Baik."
Acil Ratna memandangku cukup lama.
"Kau melihat sesuatu?"
Aku mengerutkan dahi.
"Kenapa Acil bertanya begitu?"
Dia tidak menjawab.
Amang Julak justru bertanya,
"Orang tuamu sehat?"
Aku mengangguk.
"Sehat."
"Dan kau?"
Aku tersenyum.
"Masih hidup."
Mas Tri menyela,
"Dia mulai cerewet lagi, berarti sehat."
Aku tertawa.
Amang Julak ikut tersenyum.
Tetapi ketika aku mengeluarkan foto dari tas senyum mereka langsung hilang.
Aku meletakkannya di atas meja.
"Ada yang tahu ini?"
Amang Julak tidak menyentuh foto itu.