PULANG

Raihan Langit
Chapter #24

Bab 23 : Pintu

Aku memegang gagang pintu.

Amang Julak langsung berkata,

"Panji."

Aku menoleh.

"Iya?"

"Jangan."

Aku menghela napas.

"Amang."

"Hm?"

"Selama saya di sini, setiap kali saya bertanya sesuatu, jawabannya selalu jangan."

Mas Tri mengangguk.

"Benar juga."

Aku menatapnya.

"Mas jangan ikut-ikutan."

"Aku cuma mendukung demokrasi."

Aku kembali memegang gagang pintu.

Acil Ratna berdiri agak jauh.

Wajahnya serius.

"Panji..."

"Iya, Cil?"

"Kalau kau membuka pintu itu..."

Dia berhenti.

Aku menunggu.

"...jangan mengambil apa pun."

Aku mengerutkan dahi.

"Kenapa?"

Dia tidak menjawab.

Aku menatap Amang Julak.

Dia mengangguk pelan.

Akhirnya aku menarik napas.

"Baik."

Aku membuka pintu.

Kreeeekkk...

Suara kayu tua bergesekan terdengar panjang.

Tidak ada hantu.

Tidak ada wajah pucat.

Tidak ada tangan yang tiba-tiba mencengkeram leherku.

Aku hampir kecewa.

Di dalam hanya ada ruangan tua yang penuh debu.

Mas Tri mengintip dari belakangku.

"Sepi."

Aku mengangguk.

"Syukurlah."

Dia masuk.

"Baunya kayak gudang."

Aku ikut masuk.

Amang Julak tetap berdiri di ambang pintu.

Aku menoleh.

"Amang tidak masuk?"

Dia menggeleng.

"Kenapa?"

"Rumah ini sudah terlalu lama tidak menerima tamu."

Aku menatapnya.

"Kalau begitu saya tamu pertama?"

Amang Julak menatapku lalu berkata:

"Justru itulah masalahnya."

Aku tiba-tiba merinding.

***

Ruangan itu sederhana.

Satu meja kayu.

Dua kursi.

Sebuah lemari tua.

Dan sebuah rak yang dipenuhi benda-benda aneh.

Ada kendi.

Mangkuk.

Beberapa kain.

Benda-benda adat.

Aku berjalan perlahan.

Debu beterbangan.

Mas Tri bersin.

"HA-CCIHH!"

Suara bersinnya menggema.

Dia mengusap hidung.

"Kalau ada hantu, sekarang dia tahu kita datang."

Aku tertawa.

Namun kemudian mataku tertuju pada sebuah benda.

Sebuah kotak kayu kecil.

Terletak di atas meja.

Aku mendekat.

Di atas kotak itu ada tulisan.

Aku membacanya.

PANJI.

Aku membeku.

"Mas..."

Mas Tri mendekat.

"Apa?"

Aku menunjuk tulisan itu.

Dia diam.

Kemudian memanggil,

"Amang."

Amang Julak akhirnya masuk.

Begitu melihat kotak tersebut...

wajahnya langsung berubah.

"Jangan sentuh."

Aku menatapnya.

"Kenapa?"

"Sudah kubilang."

Lihat selengkapnya