Aku masih memegang foto itu.
Tanganku terasa dingin.
Bukan karena malam.
Bukan karena angin.
Tetapi karena satu kenyataan yang baru saja muncul di depan mata:
Ayah ada di foto itu.
Di Riam Gaib.
Bertahun-tahun sebelum aku datang sebagai petugas PLN.
Aku menatap Amang Julak.
"Amang."
Dia diam.
"Tolong jelaskan."
Mas Tri berdiri di sampingku.
Acil Ratna masih di dekat pintu.
Aku mengangkat foto itu.
"Ayah saya pernah ke sini?"
Amang Julak menarik napas panjang.
"Iya."
Jawaban itu sederhana.
Namun rasanya seperti seseorang baru saja melempar batu ke dalam kepalaku.
Aku tertawa kecil.
"Kenapa?"
Amang Julak tidak menjawab.
"Untuk apa Ayah datang?"
Diam.
"Dia mencari saya?"
Amang Julak mengangguk.
Aku membeku.
"Setelah saya hilang?"
"Iya."
Aku menatap foto.
"Berapa lama?"
"Beberapa hari."
"Sendirian?"
Amang Julak menggeleng.
"Bersama orang lain."
Aku menunjuk laki-laki yang berdiri di samping Ayah.
"Dia?"
Amang Julak tidak menjawab.
Aku mulai frustrasi.
"Amang!"
Akhirnya Amang Julak berkata,
"Namanya Mahadi."
Aku terdiam.
Nama itu terasa asing.
Tetapi wajahnya...
tidak.
Aku pernah melihatnya.
Aku tidak tahu di mana.
"Siapa Mahadi?"
Amang Julak menatapku.
"Orang yang dulu tinggal di sini."
"Dulu?"
"Sudah meninggal."
Aku menelan ludah.
"Bagaimana?"
Amang Julak diam cukup lama.
"Kecelakaan."
"Di sungai?"
Dia mengangguk.
Aku memandang foto itu lagi.
Empat orang.
Ayah.
Mahadi.
Perempuan misterius.
Dan aku kecil.
Tiba-tiba aku bertanya,
"Kalau Ayah datang mencari saya..."
Aku berhenti.
"...kenapa foto ini ada di sini?"
Tidak ada yang menjawab.
Aku keluar dari rumah tua itu.
Aku membutuhkan udara segar.
Mas Tri menyusul.
"Panji."
"Ya, Mas?"
"Kau baik-baik saja?"
"Enggak."
Dia mengangguk.
"Bagus."
Aku menoleh.
"Bagus apanya?"