PULANG

Raihan Langit
Chapter #27

Bab 26 : Benda yang Disimpan

Aku masih berdiri di depan jendela.

Tulisan HULU sudah menghilang.

Namun kata itu masih terasa jelas di kepalaku.

Aku tidak langsung tidur.

Aku duduk di tepi ranjang sambil menatap foto lama.

Semakin lama aku melihatnya, semakin banyak pertanyaan yang muncul.

Dan semakin banyak pertanyaan muncul, semakin aku sadar bahwa menjadi manusia ternyata tidak jauh berbeda dengan menjadi kabel kusut.

Semakin ditarik, semakin berantakan.

Aku akhirnya tertidur menjelang pagi.


Ketika bangun, Ayah sudah duduk di teras.

Aku keluar membawa kopi.

Ayah melihatku.

"Belum mandi?"

"Belum."

"Kenapa?"

"Saya sedang menjaga jarak dengan air."

Ayah mengerutkan dahi.

"Kenapa?"

Aku duduk.

"Trauma sungai."

Ayah tertawa.

"Dasar."

Aku ikut tertawa.

Beberapa saat kami diam.

Kemudian Ayah berkata,

"Panji."

"Iya?"

"Ayah mau memberikan sesuatu."

Aku menoleh.

Dia masuk ke rumah.

Beberapa menit kemudian kembali membawa sebuah kotak kayu kecil.

Aku langsung mengenalinya.

Bukan kotak yang sama dengan yang kutemukan di rumah tua.

Tetapi bentuknya mirip.

Ayah meletakkannya di depanku.

"Ini apa?"

"Simpananku."

"Sejak kapan?"

Ayah menatap kotak itu.

"Sejak kau kecil."

Aku membuka tutupnya.

Di dalamnya ada sebuah gelang.

Aku membeku.

Lihat selengkapnya