PULANG

Raihan Langit
Chapter #28

Bab 27: Kembali ke Tempat yang Mengenalku

Dua hari kemudian aku kembali ke Riam Gaib.

Secara resmi, alasanku sederhana.

Ada gangguan jaringan listrik.

Secara tidak resmi...

aku sedang mengejar masa laluku sendiri.

Dan sejujurnya, aku lebih takut pada masa lalu daripada kabel listrik bertegangan tinggi.

Kabel setidaknya memiliki standar keselamatan.

Sedangkan masa lalu...

Tidak.

***

Perjalanan menuju Riam Gaib memakan waktu berjam-jam.

Ketika kendaraan mulai memasuki kawasan hutan, aku melihat pepohonan yang dulu terasa asing.

Sekarang semuanya seperti memiliki wajah.

Pohon besar di tikungan.

Batu-batu di tepi jalan.

Jembatan kayu.

Bahkan sebuah pohon tumbang yang pernah membuat Mas Tri hampir terjungkal dari sepeda motor.

Semuanya terasa sangat akrab.

Terlalu familiar.

Aku menyentuh gelang yang diberikan Ayah.

Kusimpan di saku.

Aku tidak memakainya.

Entah kenapa, setelah kejadian di rumah, aku merasa benda itu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan kulitku.

***

Begitu sampai di mess, Mas Tri langsung keluar.

Dia melihatku.

Kemudian melihat tas.

Kemudian melihat wajahku.

"Kenapa kembali?"

"Ada pekerjaan, Mas"

"Kerjaan apa?"

"Jaringan."

Mas Tri mengangguk.

"Bagus."

Aku menatapnya.

"Kenapa?"

"Kalau kau bilang pulang karena kangen hantu, aku pindah mess."

Aku tertawa.

"Kau sendiri yang paling sering ngomong hantu."

"Iya."

"Takut?"

"Enggak."

"Terus?"

"Aku cuma menghargai privasi makhluk gaib."

Aku tertawa.

***

Sore itu kami menuju rumah Amang Julak.

Amang sedang duduk di teras.

Acil Ratna sedang menjemur pakaian.

Begitu melihatku...

Acil Ratna berhenti.

"Sudah kembali."

Aku mengangguk.

"Iya, Cil."

Dia memandangku beberapa saat.

Kemudian melihat saku jaketku.

Aku langsung sadar.

"Gelang ini..."

Dia memotong.

"Jangan dikeluarkan."

Aku membeku.

"Bagaimana Acil tahu?"

Dia tidak menjawab.

Aku menoleh kepada Amang Julak.

"Amang."

Amang memandangku.

"Ayahmu memberikannya?"

Aku mengangguk.

Amang Julak menarik napas.

"Seharusnya belum."

Aku mengerutkan dahi.

"Belum apa?"

"Belum waktunya."

Aku mulai kesal.

"Kenapa semua orang di sini bicara seperti membaca ramalan cuaca?"

Mas Tri tertawa.

"Benar."

Aku menatap Amang.

"Amang tahu gelang ini?"

"Iya."

"Sejak kapan?"

Amang Julak diam.

Kemudian berkata,

"Sejak sebelum kau datang ke Riam Gaib."

Lihat selengkapnya