PULANG

Raihan Langit
Chapter #29

Bab 28 : Misteri Anak Kecil

Aku punya satu masalah besar.

Namanya Mas Tri.

Amang Julak sudah berkata dengan sangat jelas:

"Jangan bawa siapa pun."

Mas Tri mendengar kalimat itu.

Dan seperti manusia normal pada umumnya...

dia langsung berkata,

"Besok aku ikut."

Aku menatapnya.

"Amang bilang jangan ikut"

"Aku tahu."

"Terus?"

"Makanya aku ikut."

Aku menghela napas.

"Logikamu dari mana, Mas?"

Mas Tri menyeruput kopi.

"Pengalaman."

"Pengalaman apa?"

"Pengalaman hidup."

Aku menatapnya.

"Mas belum pernah ke hulu."

"Justru itu."

Aku hampir tertawa.

***

Pagi-pagi sekali kami berangkat.

Aku membawa peralatan kerja.

Tangga lipat kecil.

Sarung tangan.

Tespen.

Kabel.

Senter.

Dan beberapa perlengkapan lain.

Secara resmi, kami memang hendak memeriksa jaringan listrik di daerah hulu.

Jadi kalau ada yang bertanya...

kami bukan sedang mencari misteri.

Kami sedang bekerja.

Setidaknya itu alasan yang cukup masuk akal.

Mas Tri berjalan di depanku.

"Pan."

"Ya?"

"Kalau nanti ketemu hantu..."

"Iya?"

"Jangan bilang padaku."

Aku mengerutkan dahi.

"Kenapa?"

"Karena aku mau pura-pura tidak melihat."

Aku tertawa.

"Kalau hantu memanggil nama Mas?"

"Aku tidak punya nama."

"Mas Tri?"

"Itu nama palsu."

Aku menggeleng.

Benar-benar manusia aneh.

***

Semakin jauh kami berjalan...

semakin sepi.

Tidak ada suara kendaraan.

Tidak ada suara rumah.

Tidak ada suara manusia.

Hanya suara burung.

Angin.

Dan sesekali suara air.

Aku melihat gelang di saku.

Entah kenapa sejak pagi benda itu terasa berat.

Padahal ukurannya kecil.

Aku berhenti.

Mas Tri menoleh.

"Kenapa?"

"Enggak."

Aku melanjutkan berjalan.

Beberapa menit kemudian...

aku berhenti lagi.

Mas Tri mulai kesal.

"Kenapa berhenti terus?"

"Ada suara."

Dia menoleh ke segala arah.

"Suara apa?"

Aku diam.

Suara itu muncul lagi.

Panji...

Aku memejamkan mata.

Mas Tri memperhatikanku.

"Ada apa?"

"Tidak ada."

Dia menatapku curiga.

"Jangan-jangan kau mulai dengar lagi."

Aku tidak menjawab.

Dia menghela napas.

"Kalau kau dengar suara, bilang."

"Kenapa, Mas?"

"Supaya aku tahu kapan harus lari."

Lihat selengkapnya