Aku masih memegang sandal kecil itu.
Mas Tri berjalan mendekat.
"Apa itu?"
"Sandal."
"Aku tahu itu sandal."
"Terus kenapa tanya?"
"Karena sandal anak kecil di tengah hutan itu tidak termasuk perlengkapan standar PLN."
Aku melihat sandal itu lagi.
Warnanya sudah pudar.
Talinya hampir putus.
Namun ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman.
Aku pernah melihat sandal seperti ini.
Bukan sekadar mirip.
Persis.
Dalam foto lama yang kutemukan di rumah.
Aku menelan ludah.
"Mas."
"Hm?"
"Saya pernah punya sandal seperti ini."
Mas Tri mengangkat alis.
"Serius?"
Aku mengangguk.
"Waktu kecil."
Dia memperhatikan sandal itu.
"Berarti mungkin memang sandalmu."
Aku menggeleng.
"Kalau iya..."
Aku menunjuk tanah.
"...kenapa ada di sini?"
Mas Tri diam.
Aku melanjutkan,
"Dan kenapa saya tidak ingat pernah datang ke tempat ini?"
Mas Tri menggaruk kepala.
"Karena kau waktu kecil."
"Itu bukan jawaban."
"Memang."
Aku menatapnya.
Dia tersenyum.
"Aku cuma berusaha terlihat pintar."
Aku tertawa kecil.
Setidaknya Mas Tri masih Mas Tri.
Kami memutuskan kembali ke titik jaringan.
Pekerjaan harus tetap selesai.
Hantu boleh mengganggu.
Setan boleh berbisik.
Namun kalau listrik padam...
yang dimarahi tetap PLN.
Kami memeriksa tiang satu per satu.
Aku berusaha berkonsentrasi.
Namun pikiranku terus kembali kepada sandal tadi.
Setelah sekitar satu jam, kami menemukan kabel yang terkelupas.
Mas Tri naik.
Aku membantu dari bawah.
"Pan!"
"Iya?"
"Pegang tangganya!"
"Sudah."
"Jangan dilepas."
"Memangnya saya mau?"
"Kalau tiba-tiba ada hantu, jangan kabur."
Aku mendongak.
"Kalau hantu muncul?"
"Kau tetap pegang tangga."
"Mas?"
"Hm?"
"Kalau hantu naik ke tangga?"
Mas Tri diam.
Kemudian berkata,
"Kalau begitu kau yang pegang aku."
Aku tertawa.
Pekerjaan selesai menjelang sore.
Kami mulai berkemas.
Aku memasukkan peralatan.
Kemudian melihat sandal kecil itu.
Aku masih membawanya.
Mas Tri memperhatikan.
"Kenapa kau bawa?"
Aku tidak menjawab.
"Panji."
"Hm?"
"Suara perempuan tadi bilang jangan dibawa pulang."
Aku menoleh cepat.
Mas Tri langsung tertawa.
"Ha! Ketahuan."
Aku menghela napas.