PULANG

Raihan Langit
Chapter #31

Bab 30 : Enam

Aku tidak langsung pulang setelah melihat tulisan itu.

Aku berdiri di depan pohon cukup lama.

PANJI — 7

Dua kata dan satu angka.

Namun rasanya seperti seseorang baru saja menaruh batu besar di dalam kepalaku.

Mas Tri berdiri di sampingku.

"Pan."

"Hm?"

"Kalau kau terus melihat tulisan itu, tulisannya tidak akan berubah."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa dilihat terus?"

"Aku sedang berpikir."

Mas Tri mengangguk.

"Jangan berpikir terlalu keras."

Aku menoleh.

"Kenapa?"

"Nanti otakmu kepanasan."

Aku tertawa.

Setidaknya dia berhasil membuatku sedikit rileks.

Namun ketika aku kembali melihat tulisan itu...

aku melihat sesuatu yang sebelumnya tidak kusadari.

Ada goresan lain di bawah angka tujuh.

Aku membersihkan lumut.

Muncul angka kedua.

6

Aku terdiam.

Mas Tri ikut mendekat.

"Pan..."

Aku membersihkan lagi.

Di bawah angka enam...

5

Kemudian:

4

3

2

1

Kami berdua membeku.

Ternyata bukan tulisan:

PANJI — 7

Melainkan sebuah hitungan.

7

6

5

4

3

2

1

Dan tepat di bawah angka satu...

tidak ada angka nol.

Hanya sebuah simbol.

Tiga garis seperti akar.

Aku merasakan telapak tanganku panas.

Aku segera menarik gelang dari saku.

Ukirannya sama.

Mas Tri melihat gelang itu.

"Ini bukan kebetulan."

Aku mengangguk.

"Kurasa tidak."

***

Kami kembali ke mess sebelum hari benar-benar gelap.

Aku tidak menceritakan semuanya kepada Amang Julak.

Entah kenapa aku merasa perlu melihat reaksinya sendiri.

Kami sampai menjelang magrib.

Amang sedang duduk di teras.

Begitu melihat wajahku...

dia langsung tahu.

"Apa yang kau lihat?"

Aku berhenti.

"Amang sudah tahu?"

Dia tidak menjawab.

Aku mengeluarkan gelang.

Meletakkannya di meja.

Kemudian berkata,

"Kami menemukan tulisan."

Amang menatapku.

"Tulisan apa?"

Aku menyebutkan:

"Panji. Tujuh."

Wajah Amang berubah.

Aku melanjutkan.

"Lalu ada enam, lima, empat, tiga, dua, satu."

Acil Ratna yang sedang berada di dalam rumah langsung keluar.

Dia menatapku.

"Di mana?"

"Di hulu."

Amang berdiri.

"Siapa yang melihat?"

Aku mengerutkan dahi.

"Mas Tri."

Amang memejamkan mata.

Lihat selengkapnya