PULANG

Raihan Langit
Chapter #32

Bab 31 : Lima

Pagi berikutnya aku bangun dengan satu pikiran.

Angka enam.

Bukan angka yang biasanya membuat orang takut.

Enam anak ayam. Enam gelas kopi. Enam jam lembur.

Semua masih masuk akal.

Tapi kalau angka enam muncul dari suara seorang anak yang tidak terlihat setelah sehari sebelumnya kami menemukan tulisan:

7, 6, 5, 4, 3, 2, 1...

maka enam mendadak terasa seperti angka yang sangat tidak sopan.

Aku turun dari tempat tidur.

Mas Tri masih tidur.

Aku mengguncang bahunya.

"Mas."

Tidak bergerak.

"Mas Tri."

Dia menggeram.

"Kalau bukan kebakaran, nanti saja."

"Angka enam."

Matanya langsung terbuka.

"Di mana?" Mas Tri duduk seketika

Aku menatapnya.

"Kenapa Mas langsung bangun?"

"Karena kalau kau bangunkan aku cuma untuk mengatakan angka, berarti angka itu penting."

Aku tertawa.

"Kita ke rumah tua."

Dia langsung rebah lagi.

"Sendiri saja."

Aku menarik selimutnya.

"Mas."

"Apa?"

"Amang bilang jangan."

"Justru itu."

"Terus kenapa kemarin ikut?"

Mas Tri menatapku.

"Karena kemarin aku belum tahu kita akan berurusan dengan angka."

Aku tertawa.

"Apa bedanya?"

"Kalau hantu, aku masih bisa lari."

Dia menunjuk udara.

"Kalau angka, aku tidak tahu harus lari ke mana."

***

Kami berangkat setelah matahari naik.

Kali ini kami tidak membawa peralatan PLN.

Tidak ada tangga, tidak ada kabel, dan tidak ada alasan resmi.

Kami hanya membawa senter, air minum, dan keberanian yang sebenarnya sudah mulai menipis.

Rumah tua itu terlihat lebih menyeramkan pada siang hari.

Aneh.

Pada malam hari, kegelapan bisa menyembunyikan banyak hal.

Siang hari justru membuat kita bisa melihat betapa buruknya keadaan sebuah tempat.

Dinding lapuk.

Atap berlubang.

Jendela tua.

Dan tanaman liar yang tumbuh di mana-mana.

Mas Tri berdiri di depan pintu.

"Pan."

"Hm?"

"Kalau nanti ada sesuatu yang keluar..."

"Iya?"

"Kau duluan."

Aku menatapnya.

"Kenapa saya?"

"Karena kau tokoh utama."

Aku tertawa.

"Mas ini penulis juga sekarang?"

"Kalau aku mati duluan, siapa yang menyaksikan?"

Kami masuk ke rumah tua itu.

***

Ruangan masih sama.

Meja tua, lemari tua, rak kosong, dan sebuah kotak kayu.

Aku langsung menuju tempat ditemukannya foto kemarin.

Kosong.

Aku memeriksa lantai.

Tidak ada apa-apa.

Mas Tri membuka lemari.

"Pan."

"Apa?"

"Ini."

Dia menunjukkan sebuah buku tua.

Sampulnya hitam.

Tidak ada judulnya.

Aku mengambil buku itu.

Debu beterbangan.

Aku membuka halaman pertama.

Kosong.

Halaman kedua.

Kosong.

Lihat selengkapnya