Aku dan Mas Tri tidak langsung berlari.
Kami berjalan cepat.
Ada perbedaan antara berlari karena takut dan berjalan cepat sambil berusaha menjaga harga diri.
Kami memilih yang kedua.
Setidaknya sampai kami keluar dari halaman rumah tua.
Begitu sampai di bawah pohon besar, Mas Tri berhenti.
"Pan."
"Iya?"
"Kita tadi mendengar suara yang sama?"
Aku mengangguk.
"Suara anak kecil."
"Dan suaranya mirip suaramu."
Aku mengangguk lagi.
Mas Tri menarik napas.
"Baik."
"Apa?"
"Mulai sekarang aku tidak akan mengejekmu lagi."
Aku menatapnya.
"Kenapa?"
"Karena ternyata kau memang punya masalah."
Aku tertawa kecil.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Kami berjalan lagi, namun baru beberapa langkah... aku merasakan sesuatu di saku celana.
Aku berhenti.
Mas Tri ikut berhenti.
"Apa?" Ia bertanya.
Aku memasukkan tangan ke saku. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Aku mengeluarkannya.
Sebuah benda kecil berbentuk bulat. Terbuat dari kayu. Dengan ukiran tiga garis seperti akar.
Aku membeku.
"Mas..."
Mas Tri melihat.
"Itu apa?"
Aku menggeleng.
"Aku tidak tahu."
"Jangan bilang..."
Dia tidak melanjutkan.
Aku membalik benda itu.
Ada tulisan di bagian belakang.
Satu kata:
PULANG.
Aku merasakan tubuhku menjadi dingin.
Mas Tri langsung berkata,
"Kita buang saja."
Aku mengangguk. Aku melemparkannya ke tanah.
Kami melanjutkan berjalan.
Baru beberapa langkah, aku merasakan saku kembali berat.
Aku berhenti, tanganku merogoh saku. Benda kayu itu ada lagi.
Mas Tri menatapku, wajahnya nampak pucat.
"Pan."
"Iya?"
"Jangan lempar lagi."
"Kenapa?"
"Kalau dia balik lagi..." Mas Tri memandang ke arah hutan.
"...aku takut nanti dia membawa temannya."
Aku tertawa gugup.
***
Kami kembali ke desa menjelang siang. Amang Julak sedang duduk di teras. Begitu melihat benda kayu di tanganku dia langsung berdiri.
Wajahnya berubah.
"Buang benda itu."