Suara itu terdengar lagi dari bawah lantai...
"Panji..."
Aku menatap lantai kayu.
Mas Tri juga.
Acil Ratna langsung berhenti bernapas, seperti orang yang baru saja ingat bahwa bernapas ternyata bisa berbahaya.
Amang Julak berdiri. Wajahnya berubah.
Aku menatapnya.
"Amang?"
"Jangan jawab panggilan itu." Amang Julak berkata pelan.
Suara dari bawah rumah terdengar lagi. Kali ini lebih jelas.
"Panji..."
Aku merasakan tengkukku dingin.
Mas Tri berbisik,
"Dia tahu namamu."
Aku mengangguk lalu menjawab,
"Yang lebih mengkhawatirkan... dia tahu aku ada di sini." Kataku sambil memandang ke lantai
Lalu terdengar ketukan dari bawah.
Tok.
Kami semua diam.
Tok.
Aku dan Mas Tri saling memandang. Kemudian:
Tok. Tok. Tok.
Tiga ketukan, dan suaranya semakin nyaring.
Acil Ratna langsung berkata,
"Amang..."
"Diamlah." Balas Amang sambil mengambil tongkatnya.
Dia berjalan perlahan menuju sudut rumah. Aku mengikutinya.
"Amang, mau apa?"
"Aku harus memastikan."
"Memastikan apa, Mang?"
"Apakah suara itu benar-benar dari bawah."
Aku mengerutkan dahi.
"Kalau ternyata iya?" Tanyaku.
Amang menatapku. "Jangan berharap dia sedang sendirian."
Aku langsung berhenti.
Mas Tri berbisik,
"Kalau begitu saya berubah pikiran."
"Berubah pikiran bagaimana?" Tanyaku menatapnya.
"Saya jadi tidak mau tahu."
Aku hampir tertawa. Namun suara dari bawah kembali terdengar.
"Panji..."
Kali ini bukan suara anak kecil, melainkan suara perempuan yang lembut. Aku langsung mengenalinya.
Suara Nyi Sari.
Aku berjongkok dan menempelkan telinga ke lantai.
"Panji, jangan!"
Acil Ratna menarik bahuku.
Aku menatapnya.
"Kenapa, Cil?"
Acil Ratna tidak menjawab, lalu aku mendengar sesuatu.
Suara air.
Seperti ada sebuah sungai yang mengalir. Padahal rumah ini jauh dari sungai.
Kemudian... Terdengar suara langkah kecil yang berjalan di bawah lantai.
Srek... srek... srek...
Semakin dekat.
Aku menahan napas. Langkah itu berhenti tepat di bawah kakiku
Kemudian terdengar suara anak kecil, sangat pelan:
"Kau tidak seharusnya kembali."