PULANG

Raihan Langit
Chapter #35

Bab 34 : Bisikan yang Semakin Dekat

Aku tidak langsung pulang malam itu. Bukan karena aku berani, aku hanya tidak tahu harus pulang ke mana.

Kalimat yang kudengar terus berputar di kepalaku.

Ayahmu bukan orang yang membesarkanmu.

Mas Tri duduk di sebelahku di teras rumah Amang. Biasanya dia akan membuat lelucon. Namun kali ini tidak.

Acil Ratna membuatkan kopi, tetapi tidak seorang pun menyentuhnya. Amang Julak masih berdiri di dekat pintu.

Aku akhirnya bertanya,

"Amang."

"Iya?"

"Apakah Ayah saya selama ini bukan ayah kandung saya?"

Amang menatapku.

"Bukan begitu."

"Lalu bagaimana?"

Dia menarik napas.

"Yang kau dengar tadi belum tentu kebenaran."

Aku tertawa hambar.

"Masalahnya, Amang selalu mengatakan itu setelah saya mendengar sesuatu."

Mas Tri mengangguk.

"Benar juga."

Aku menoleh kepadanya.

"Mas jangan ikut-ikutan."

"Maaf."

Aku kembali menatap Amang.

"Kalau begitu siapa yang saya panggil Ayah malam itu?"

Amang tidak menjawab.

Acil Ratna akhirnya duduk di sampingku.

"Panji..."

"Iya, Cil?"

"Kadang-kadang seorang anak memanggil seseorang Ayah bukan karena dia ayahnya."

"Terus?"

"Karena orang itu menyelamatkannya."

Aku terdiam.

"Jadi orang yang menyelamatkan saya..."

Acil Ratna mengangguk lalu menjawab

"Mungkin."

"Mungkin?" Aku masih merasa tidak percaya.

"Iya."

Aku menghela napas.

"Kenapa semuanya selalu mungkin?" Aku memegang kepala dengan kedua tangan.

Mas Tri menyeruput kopi, lalu ia berkata, "Karena kalau sudah pasti, namanya bukan misteri."

Aku menatapnya.

Dia tersenyum.

"Maaf." Katanya lagi.

***

Malam semakin larut. Aku akhirnya kembali ke mess. Mas Tri mengikutiku. Kami berjalan dalam diam. Sesampainya di kamar, aku langsung mengeluarkan foto lama.

Aku letakkan di atas meja.

Ada aku kecil, Nyi Sari, Mahadi, dan seorang lelaki yang berdiri agak jauh.

Aku menatap foto itu.

"Mas."

"Ya?"

"Lihat lelaki ini."

Mas Tri mendekat.

Lihat selengkapnya