Malam itu, langit seolah enggan berbagi cahaya. Gelap, kosong, tanpa bintang. Angin berembus lirih, menggoyangkan dedaunan yang bersuara seperti bisikan sunyi. Di bawah temaram lampu taman, seorang gadis duduk diam, merangkul lututnya sendiri. Wajahnya sembab, matanya tersembunyi di balik genangan air mata yang tak kunjung kering.
Nadira…
Gadis itu baru saja kehilangan ibunya. Dan kini, seakan luka itu belum cukup dalam, Dirga—lelaki yang ia sayangi selama empat tahun—pergi meninggalkannya tanpa penjelasan yang benar-benar ia pahami.
Sesak.
Seperti ada duri yang mengendap di dada, menyiksa setiap tarikan napasnya. Cinta yang selama ini ia jaga sepenuh hati, hancur dihempas oleh keegoisan yang tak pernah ia duga. Ia memejamkan mata, berharap ada ketenangan dalam gelapnya pandangan, tetapi yang muncul justru kenangan—satu per satu, datang menari dalam kepala.
Empat tahun bukan waktu yang sebentar. Mereka melewati banyak suka dan duka, merangkai mimpi yang kini hanya tinggal serpihan. Semuanya lenyap begitu saja, seperti kaca yang pecah—tak ada yang bisa mengembalikannya utuh tanpa menyisakan luka.
Nadira menggenggam jemarinya sendiri, mencoba menahan gelombang emosi yang nyaris meluap.
“Kenapa harus seperti ini?” bisiknya pelan.
Angin yang berembus kembali menerbangkan daun-daun kering di sekitarnya, seolah ikut merasakan kegundahan itu.
Tapi, tetap tak ada jawaban.
Tak ada pelukan hangat yang datang untuk menenangkan.
Dan yang lebih menyakitkan lagi: tak ada jaminan bahwa rasa sakit ini akan segera berlalu.
---
Keesokan harinya
Cahaya pagi menelusup lewat celah tirai, membentuk pola samar di dinding kamar. Nadira terbangun perlahan dengan mata yang masih terasa berat, menyisakan sembab dari tangis semalam. Dalam kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, ia berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi. Namun, saat jemarinya mencubit pelan pipinya sendiri, rasa sakit yang muncul langsung menghantam harapan itu. Ini nyata. Semua kehilangan, semua luka, bukan sekadar ilusi yang bisa hilang begitu saja saat pagi datang.
Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara yang terasa lebih dingin dari biasanya. Di luar, langit terlihat cerah—seolah dunia tak peduli dengan kepedihan yang ia rasakan. Segalanya tampak berjalan seperti biasa. Hanya dirinya yang masih terjebak dalam kesedihan. Pelan-pelan, ia bangkit dari tempat tidur, melangkah menuju kamar mandi. Rasanya, seolah seluruh tubuhnya enggan bergerak. Tapi ia tahu, ia tak bisa selamanya bersembunyi dalam duka.