Pulang Itu Kamu

Bias Divhanka
Chapter #2

Sapaan Hangat Dalam Dinginnya Hujan

Bandung pagi itu murung. Langit kelabu menggantung di atas, udara dingin menyusup ke balik jaket tipis. Dari dalam angkot yang tersendat di tengah lalu lintas, seorang pemuda bernama Saka menatap arlojinya, jemarinya mengetuk lutut dalam ritme cemas.

“Pak, stop di sini, Pak!” serunya.

Angkot berhenti, ia cepat merogoh saku, menyerahkan uang dan melambaikan tangan. Tanpa menunggu balasan, ia melompat turun, berlari kecil menuju gerbang Universitas Padjadjaran di Dipati Ukur. Hujan rintik mulai turun, membawa aroma tanah basah yang khas. Saka menarik napas panjang, membiarkan aroma itu menenangkan pikirannya yang riuh.

Hari ini adalah awal baru. Bandung, kota jauh dari kegagalan dan tatapan kecewa orang tua, kini menjadi tempatnya memulai kembali. Hujan yang semakin deras tak lagi mengganggu; ia hanya peduli pada satu hal: memperbaiki arah hidupnya.

Sejak kecil, Saka hidup dalam kemewahan, tapi tanpa kehangatan. Rumah luas, fasilitas lengkap, tapi kasih sayang minim. Pertengkaran orang tua dan kesendirian membuatnya kehilangan arah, sampai akhirnya kampus lama di Jakarta memutuskan untuk mengeluarkannya. Kata itu masih perih. Kini, ia ada di sini, menatap bangunan kampus yang asing tapi penuh harapan.

---

Awal Pertemuan yang Menyebalkan


Hujan rintik itu berubah menjadi deras. Nadira mulai mempercepat langkahnya.

“Sial, udah naik angkot kelewatan, sekarang hampir kehujanan! Semua ini gara-gara dia.”

Ia terus menggerutu sepanjang jalan, suaranya penuh kekesalan. Namun jauh di dalam hatinya, ada kenangan yang sulit ia lupakan.

Langkah demi langkah terayun. Saat menyusuri koridor kampus, tangan kanannya sibuk menekan layar ponsel, memastikan dirinya tidak telat masuk kelas. Hingga...

Bruk!

Gadis itu terlalu sibuk dengan pikirannya—dan layar ponsel di tangannya—hingga tak menyadari seseorang datang dari arah berlawanan.

“Aduh! Liat-liat dong kalau jalan!” serunya refleks, masih setengah fokus pada layar ponselnya yang kini gelap.

Sosok di depannya, yang tak lain adalah Saka, mendengus dengan raut wajah tak kalah kesal.

“Kamu sendiri yang jalan nggak lihat-lihat! Jangan asal nyalahin orang!”

“Yeh, sudah jelas kamu yang salah. Bukannya minta maaf, malah nyalahin!” Nadira menghela napas tajam, berusaha menahan emosinya, tapi bayang-bayang Dirga kembali menyusup ke dalam benaknya. Emosinya tersulut lebih dari yang seharusnya. Suaranya menggetar meski terdengar tajam.

“Dasar cowok egois!”

Saka mengangkat alis, kini benar-benar terganggu. Tapi juga sedikit bingung—cewek ini marahnya serius banget.

“Aku egois? Kamu yang nggak hati-hati, tapi aku yang disalahin? Pikir lagi, deh!”

“Cuma karena kamu cowok, lantas merasa paling benar?” Nadira mendengus sinis. “Mungkin itu yang sering bikin cewek bingung sama sikap kalian!”

Saka mendecak, merasa perdebatan ini semakin absurd. Tapi ada yang janggal... cara cewek ini bicara seolah sedang menumpahkan sesuatu yang lebih dari sekadar kesal karena ditabrak.

“Kalau ngelamun, jangan nyalahin orang lain! Ini semua terjadi karena kamu sendiri!” ujarnya, sedikit menahan nada suaranya agar tidak makin memburuk.

Nadira terdiam sejenak. Semua ini memang tidak masuk akal. Kenapa dia sampai terpancing sejauh ini?

Ia mengembuskan napas panjang, menekan emosinya yang hampir tumpah.

“Sudahlah, aku nggak ada waktu buat berantem sama orang yang nggak tahu diri.”

Lihat selengkapnya