Sore itu, di bawah langit yang gelap dan hujan yang semakin deras, Nadira berusaha menahan dingin dengan melipat tangannya erat di depan dada. Suara petir sesekali bergemuruh, membuatnya sedikit tersentak dan melirik ke arah jalan yang masih sepi dari angkot. Namun, dari kejauhan, seorang pemuda mendekat ke halte dengan payung hitam di tangan.
Pemuda itu berjalan tenang menembus hujan, seolah derasnya air dari langit tak mengusiknya.
Nadira tak terlalu memperhatikan, sampai akhirnya ia menyadari bahwa pemuda itu berdiri tak jauh darinya, mengamati jalan dengan tatapan sabar. “Lagi nunggu angkot ya?” tanyanya sambil sedikit tersenyum.
Nadira hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kecil, canggung. Pandangannya teralihkan ketika pemuda itu yang ternyata adalah Dirga, sosok lelaki yang banyak digemari para mahasiswi—menoleh padanya dan tampak mengamati hujan lebat di depannya dengan pandangan tenang.
Ada ketenangan dalam sorot mata Dirga, seakan hujan bukan pengganggu, melainkan teman setia.
“Gue juga lagi nunggu jemputan. Hujannya niat banget, ya,” ucap Dirga, mencoba mencairkan suasana. Nadira tersenyum tipis, masih diam.
Ada sesuatu dalam nada bicaranya—tenang, santai, tapi terasa dekat, seperti lagu lama yang familiar di telinga.
Beberapa menit berlalu dengan hening, hingga sebuah mobil perlahan berhenti di dekat mereka. Dirga melirik ke arah mobil tersebut lalu kembali menoleh pada Nadira. “Nadira, kalau kamu nggak keberatan… mau bareng? Sopir gue udah sampai.”
Nadira menatapnya ragu, tapi Dirga tersenyum, seakan ingin meyakinkan.
“Gue antar sampe rumah kalau mau. Hujannya kayak gini, nggak enak nunggu sendirian.” lanjutnya kembali.
Nadira akhirnya mengangguk pelan. Dirga langsung memayunginya menuju mobil, memegang payung di atas mereka berdua agar ia tak terkena hujan.
Langkah mereka pelan, menyisakan jejak samar di atas trotoar basah, ditemani suara ritmis hujan yang menari di atas payung.
Saat Nadira masuk ke mobil, senyum di wajah Dirga terlihat semakin ramah.
Sejak hari itu, Nadira tak bisa melupakan sosok Dirga. Ada kehangatan yang terasa setiap kali ia teringat tatapan ramah pemuda itu di bawah payung hitamnya.
Momen itu seperti cuplikan film yang terus berputar dalam pikirannya, sederhana namun penuh makna.
Bagi Nadira, pertemuan di halte itu bukan sekadar pertemuan biasa. Di tengah derasnya hujan dan gemuruh petir, Dirga hadir membawa rasa nyaman yang tak biasa. Ia masih bisa merasakan debaran jantungnya setiap kali mengingat senyuman pertama Dirga, seperti ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan—sesuatu yang menariknya untuk ingin mengenal pemuda itu lebih jauh.
Seiring waktu, pertemuan singkat itu tumbuh menjadi kedekatan yang tak disangka-sangka. Kini, hampir setiap hari Dirga dan Nadira selalu menyempatkan waktu bersama, meski hanya sekadar berjalan di lorong kampus atau duduk di taman sambil menikmati senja. Di mata Nadira, Dirga adalah sosok yang tenang, seseorang yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman dengan caranya yang sederhana.