Ajakan yang Membungkus Rindu
Gejolak di dalam hati keduanya tak bisa lagi dihindari. Beberapa hari ke belakang, Nadira yang kerap senyum-senyum sendiri. Kini, giliran Dirga yang mengalami hal yang sama.
Sore itu, Dirga sedang duduk di taman kampus bersama teman-temannya. Namun, pikirannya tak sepenuhnya berada di sana. Sesekali ia melirik layar ponselnya, berharap ada pesan masuk dari Nadira.
“Hei, bro, kenapa lu senyum-senyum sendiri?” celetuk Reza, salah satu teman kampusnya, sambil menepuk bahunya.
Dirga menggeleng sambil tersenyum kecil, “Nggak, nggak ada apa-apa.”
Reza menaikkan alisnya, curiga. “Nggak ada apa-apa atau nggak mau cerita? Udah ah, jujur aja. Pasti soal cewek, ya?”
Dirga hanya tersenyum, namun di dalam hatinya, ia tak bisa memungkiri rasa hangat yang selalu muncul tiap kali teringat sosok Nadira. Bahkan ia mulai merasa, mungkin pertemuan di halte sore itu adalah awal yang lebih dari sekadar kebetulan.
Dirga terdiam sejenak, pikirannya kembali pada momen saat ia pertama kali melihat Nadira di halte, dengan wajahnya yang sedikit basah oleh cipratan air hujan. Sejak saat itu, tanpa ia sadari, sosok Nadira mulai sering muncul di benaknya.
Reza yang memperhatikan Dirga hanya tersenyum menggoda. “Wah, ini mah pasti parah. Biasanya lu nggak pernah begini, bro,” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kapan mau dikenalin sama kita?”
Dirga tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya, sedikit gugup. “Ah, nggak ada apa-apa, cuma... cuma temen biasa.”
Namun, meskipun kata-kata itu keluar dari mulutnya, di hatinya Dirga tahu betul bahwa perasaannya pada Nadira sudah mulai melampaui sekadar teman biasa. Entah kenapa, tiap kali ia melihat senyum Nadira, ia merasa ada sesuatu yang lain di dalam hatinya. Sesuatu yang membuatnya merasa hangat, namun juga membuatnya gelisah.
Sore itu, saat ia dan teman-temannya beranjak pulang dari taman kampus, Dirga menatap layar ponselnya sekali lagi, berharap pesan yang ditunggu-tunggu akan muncul. Tapi tetap saja, tak ada satu pun pesan dari Nadira. Meski sedikit kecewa, ia berusaha menyembunyikannya sambil bergumam pelan,
“Mungkin besok dia akan kirim pesan duluan.”
---