Pulang Itu Kamu

Bias Divhanka
Chapter #5

FLASHBACK - Pelukan Terakhir dari Senja ( Bagian 1 )

Detik demi detik berlalu, menunggu sesuatu yang amat dinanti. Hingga akhirnya, waktu itu datang—mengubah keresahan menjadi kesenangan, mengubah ragu menjadi harapan.

Sesuai janji mereka siang tadi di perpustakaan, malam itu Dirga menjemput Nadira di rumahnya. Meski tujuannya hanya untuk menikmati segelas kopi, namun ada sesuatu yang terasa lebih dari sekadar janji sederhana. Nadira tampak begitu anggun malam itu, mengenakan dress merah merona yang jatuh lembut di tubuhnya. Ornamen bunga dari kain di bagian dada kanan menambah kesan elegan. Rambutnya dibiarkan terurai alami, hanya dihias jepit kecil berwarna perak di sisi kanan. Dirga pun tampil berbeda—kemeja bermotif yang rapi, dipadukan dengan celana panjang hitam. Wajahnya bersih, bahkan aroma parfumnya tercium lembut saat berdiri di depan pintu.

Begitu pintu terbuka, tatapan mereka saling terkunci. Ada jeda yang membeku, seolah waktu berhenti hanya untuk keduanya. Tatapan itu berbicara dalam diam, lebih dalam dari kata-kata yang bisa diucapkan.

Dirga menarik napas, matanya masih terpaku pada sosok di hadapannya. “Kamu… terlihat berbeda malam ini,” ucapnya pelan, nadanya terdengar lebih dari sekadar pujian.

Nadira tersenyum samar, mencoba menyembunyikan degup jantungnya yang tak karuan. Ia membenarkan helai rambut yang jatuh ke pipi. “Kamu juga.”

Mobil melaju perlahan menyusuri jalanan kota yang mulai sepi. Hanya suara musik pelan dari radio yang menemani mereka. Nadira memandangi lampu-lampu jalan yang berganti satu per satu, sementara Dirga sesekali mencuri pandang, memperhatikan sosok di sampingnya. Tak ada banyak kata yang diucapkan, tapi keheningan itu bukan sesuatu yang canggung. Justru menenangkan—seperti dua jiwa yang tak butuh banyak bicara untuk merasa saling dimengerti.

Setelah perjalanan yang terasa tenang namun menyenangkan, mereka tiba di sebuah kedai kopi kecil di tepi jalan. Tempat itu sederhana, namun memancarkan suasana hangat. Lampu temaram yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya lembut, menambah keintiman malam itu. Dirga membukakan pintu untuk Nadira, dan mereka berjalan masuk bersama. Aroma kopi segar menyambut mereka, bercampur dengan wangi kayu dan roti panggang.

Mereka memilih duduk di pojok, dekat jendela. Dari sana, mereka bisa melihat lalu-lalang kendaraan di kejauhan, meski tak banyak. Pelayan datang membawakan menu, namun keduanya lebih sibuk saling menatap, berbicara dengan mata.

Setelah beberapa obrolan ringan tentang kampus, buku, dan cuaca yang semakin dingin, Dirga mendadak terdiam. Nadira menyadari perubahan itu. Wajah Dirga tak lagi santai. Matanya menatap kosong ke cangkir kopi yang masih mengepulkan uap.

“Nadira,” suara Dirga terdengar pelan, namun mengandung sesuatu yang dalam.

Lihat selengkapnya