Hari-hari setelah itu… segalanya terasa berbeda. Mereka mulai terbiasa dengan sapaan ‘sayang’ di pesan singkat, mulai membiasakan diri saling menunggu di gerbang kampus, mulai belajar memahami bahasa tubuh satu sama lain.
Kebersamaan mereka sederhana, tapi berarti. Tak selalu tentang kencan mewah atau hadiah mahal. Kadang hanya duduk di taman sambil berbagi satu gelas es teh, atau tertawa saat saling mengejek di kantin. Namun justru dari hal-hal kecil itulah perasaan mereka tumbuh semakin dalam.
Suatu sore, mereka memutuskan pergi ke bukit kecil di pinggir kota. Tempat yang tidak banyak orang tahu, tapi Dirga sering ke sana sendirian saat butuh ketenangan. Senja menyapa mereka dengan warna jingga keemasan, angin sore mengusap rambut Nadira dengan lembut.
Mereka duduk berdampingan di atas rumput, memandangi cakrawala yang perlahan menelan mentari.
“Nadira…” Dirga memanggil tanpa menoleh.
“Hm?” Nadira masih memandangi langit.
“Kalau suatu hari nanti kamu merasa semuanya berubah… jangan buru-buru pergi, ya? Kita bicarakan. Aku nggak mau kehilangan kamu.”
Nadira menoleh, menatap wajah Dirga yang diterangi cahaya senja. Ia meraih tangan Dirga dan menggenggamnya erat.
“Aku nggak akan pergi. Kecuali kamu menyuruhku pergi.”
Dirga menoleh, tersenyum. “Kalau begitu, jangan pernah pergi. Karena aku akan selalu butuh kamu di sini.”
Tangannya menunjuk ke dadanya sendiri.
Sore itu—di bawah langit yang jingga—dua hati telah saling berjanji. Seenggaknya, untuk saat itu. Karena tanpa mereka ketahui, badai yang akan datang amatlah besar.