Seminggu kemudian
Rasa pusing yang semula hanya sesekali datang kini semakin sering menyergap Dirga. Bukan lagi sekadar nyeri yang bisa ia abaikan, tapi sesuatu yang mulai mengganggu kesehariannya. Setiap kali rasa itu muncul, ada ketakutan yang perlahan merayapi pikirannya—sesuatu yang tak berani ia ungkapkan pada siapa pun, termasuk Nadira.
Malam itu, Dirga duduk sendiri di kamarnya, menatap layar ponselnya yang menampilkan hasil pencarian tentang sakit kepala yang terus-menerus. Ia menggigit bibirnya, merasa dadanya sedikit sesak.
“Apa sebenarnya yang terjadi padaku?”
Pertanyaan itu berulang-ulang terlintas di kepalanya, menghantui setiap malamnya. Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus mencari jawabannya.
Sore itu…
Suasana di ruang tunggu Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung terasa tenang, tapi tidak demikian dengan perasaan Dirga. Ketenangan di ruang itu justru membuat pikirannya berlarian ke segala arah, mulai dari bayangan Nadira yang ia cintai, hingga ketakutan jika penyakit ini benar-benar serius. Apa yang akan terjadi jika ia harus meninggalkan semua impiannya? Bagaimana jika Nadira harus hidup tanpa dirinya?
Seorang perempuan cantik dengan rambut terikat rapi berjalan mendekat. Di tangan kanannya, ia membawa sebotol air mineral. Sesampainya di depan Dirga, perempuan itu duduk di sampingnya, lalu menyodorkan botol itu dengan wajah penuh simpati.
“Nih, minum dulu, Mas,” ucapnya lembut tanpa canggung.
Ia, Marina, sepupu Dirga asal Surabaya. Rencana awalnya, Marina datang ke Bandung untuk liburan sebelum kembali kuliah di Australia. Namun, waktu liburan yang seharusnya penuh canda tawa itu berubah. Kini, ia menghabiskan hari-harinya di samping Dirga, sepupu yang tampak berbeda dari biasanya—lebih murung dan penuh kecemasan.
“Mas baik-baik saja, kan?” tanya Marina lirih, melirik wajah Dirga yang pucat dan penuh kegelisahan.
“Entahlah, Rin…” jawab Dirga pelan. “Aku cuma ingin tahu apa sebenarnya yang salah dengan tubuh ini. Rasa pusing ini… rasanya makin parah, tapi aku tidak mau bikin Nadira khawatir. Aku ingin sembuh, Rin, biar semua kembali seperti biasa.”