Dirga keluar dari ruangan dokter dengan wajah lebih pucat dari sebelumnya. Tatapannya kosong, dan langkahnya sedikit goyah. Melihat Dirga seperti itu, Marina segera bangkit dari kursi dan menghampirinya dengan wajah penuh kecemasan.
“Mas Dirga, kok wajahnya pucat banget? Apa kata dokter?” tanya Marina, mencoba menahan suaranya agar tidak terdengar terlalu panik.
Dirga hanya menggeleng pelan, lalu mencoba tersenyum tipis walaupun jelas senyuman itu terpaksa. “Nggak ada apa-apa, Rin. Cuma kecapekan biasa, kok. Tadi katanya butuh istirahat lebih banyak saja.”
Marina menatapnya tak percaya. “Masak sih cuma kecapekan? Wajah Mas Dirga kelihatan... nggak kayak biasanya.” Marina menyodorkan sebotol air mineral lagi. “Minum dulu, Mas.”
Dirga menerima botol itu dan mengambil satu tegukan, lalu kembali terdiam sejenak, seperti sedang berusaha mengumpulkan kata-kata. Setelah beberapa detik, ia menatap Marina dengan serius.
“Rin, aku minta satu hal sama kamu,” ujar Dirga, suaranya sedikit serak.
Marina mengangguk cepat. “Apa pun itu, Mas. Bilang aja.”
Dirga menghela napas panjang, lalu berkata, “Kamu jangan cerita ini ke siapa-siapa, ya? Apalagi ke orang tua aku. Mereka nggak perlu tahu soal ini... cukup kita berdua aja yang tahu.”
Marina menatapnya dengan ragu. “Tapi, Mas… kalau ini serius, aku nggak yakin bisa diam aja. Kamu butuh dukungan, perlu bantuan.”
Dirga tersenyum lemah, lalu menepuk pundak Marina dengan lembut. “Aku tahu kamu khawatir. Tapi justru karena aku sayang sama mereka, aku nggak mau bikin mereka kepikiran. Aku masih bisa handle ini, kok. Beneran.”