Pulang Itu Kamu

Bias Divhanka
Chapter #9

FLASHBACK - Dilema ( Bagian 1 )

Sepoi angin malam berembus lembut, menebarkan hawa dingin yang menembus tulang. Di bawah gelapnya malam, Dirga menatap langit kelabu dengan tatapan kosong. Pikirannya membeku—buntu, sesak, dan penuh ketakutan. Ingin rasanya ia memberitahu Nadira soal penyakitnya, tapi ia sadar, gadis itu sudah cukup terbebani oleh kondisi ibunya yang kian memburuk. Namun, menyembunyikannya pun bukan pilihan yang lebih baik. Dirga membayangkan wajah Nadira yang menangis di atas pusaranya kelak—sebuah pemandangan yang tak sanggup ia bayangkan lebih lama.

Ia mengepal tangan, seakan bisa menahan takdir yang mulai merenggut sedikit demi sedikit harapannya. “Tuhan, apa yang harus aku lakukan?” lirihnya dalam hati.

Teringat lagi tawanya Nadira yang ceria, senyum hangat yang selalu menenangkannya. Tapi kini, semua terasa menjauh seperti bayangan senja yang memudar ditelan malam. Ia tahu, jika saat itu tiba, Nadira akan merasa hancur. Dan ia tak sanggup menjadi alasan di balik tangisan gadis yang begitu ia cintai, apalagi saat Nadira masih tenggelam dalam duka karena ibunya. Ia menatap ponselnya yang mati. Pesan-pesan dari Nadira belum sempat ia balas. Bahkan sekadar mengucapkan, “Aku rindu,” terasa berat. Karena setiap kata yang ia tulis, bisa jadi menjadi kata terakhir yang sempat ia sampaikan.

---

Tangis Mengiring Kepergian

Hari-hari berlalu bersama kegetiran yang belum menemukan jalan keluar. Keadaan ibunya semakin memburuk. Sedangkan di sisi lain—tanpa pernah ia tahu—Dirga, lelaki yang dicintai juga tengah mengalami kondisi yang nyaris meregang nyawa. Sampai saatnya tiba, puncak dari kegetiran Nadira membuncah. Ibunya berpulang—ibunya meninggal, setelah begitu lama berjuang melawan penyakitnya. “Nad, kamu baik-baik saja, kan?” tanya Rania pelan. Suaranya lembut, penuh perhatian, seperti takut menambah luka.

Ia berdiri di ambang pintu, menatap sahabatnya yang duduk memeluk lutut di sisi ranjang. Mata Nadira bengkak, wajahnya pucat. Kepergian ibunya memberikan kesedihan menetap seperti kabut yang enggan pergi. Di ruang tamu, Dirga terduduk diam. Ia tak berani masuk. Isakan halus Nadira masih terdengar samar dari balik dinding, meski Rania dan Lisa sudah berpamitan.

Hatinya sesak, seperti sedang menyaksikan bayangan masa depan yang menakutkan—Nadira menangisi kepergiannya dengan air mata yang sama. Ia menggenggam lutut, matanya kosong menatap ke depan. Ingin rasanya masuk ke kamar itu, mendekap Nadira, membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi mungkinkah? Jika ia berkata jujur sekarang, bukankah itu hanya akan menambah luka? Di dalam kamar, Nadira terus tenggelam dalam duka. Tangannya memeluk erat bantal yang basah oleh air mata. Aroma kenangan masih tertinggal di dalam kamar itu—aroma ibu yang hangat, yang selalu menyelimuti malam-malamnya. Tapi kini, kehangatan itu telah pergi. Yang tersisa hanyalah sunyi dan dingin yang menusuk dada.

Setiap sudut kamar menjadi saksi bisu kehilangan. Gantungan mukena ibunya masih tergantung di balik pintu, seolah belum sempat dibereskan. Peci peninggalan sang ayahnya pun ikut terdiam di meja rias, menyatu dengan sunyi. Dirga memejamkan mata. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan, seolah berusaha menguatkan diri. Sampai kapan ia bisa terus berpura-pura? Sampai kapan ia sanggup menyembunyikan ini semua? Jika ia tetap diam, pada akhirnya Nadira tetap akan menangis. Dan tangisan itu akan lebih dalam, lebih hancur.

---

Lihat selengkapnya