Dua Hari Kemudian
Malam itu, taman kota sepi, hanya diterangi lampu-lampu taman yang kuning temaram. Nadira duduk di bangku kayu, memeluk kedua tangannya sendiri, seakan itu bisa menghangatkan hatinya yang mulai kembali rapuh. Angin menyapa lembut rambutnya yang terurai, membelainya perlahan.
Ia menatap ke arah jalan setapak, berharap sosok Dirga segera muncul. Matanya berkaca-kaca, bukan karena duka ibunya, tapi karena hatinya mulai tak tenang. Ada firasat, ada sesuatu yang tak ia mengerti, tapi terasa menekan di dadanya.
Dari kejauhan, Dirga berdiri diam di balik bayangan pepohonan. Matanya tak lepas dari sosok Nadira. Betapa indahnya gadis itu, bahkan saat diliputi kesedihan. Dan betapa hancurnya hatinya karena harus menyakiti seseorang yang begitu ia cintai.
“Aku cuma ingin dia bahagia, meski tanpa aku,” gumamnya, dalam hati.
Malam itu, taman akan menjadi saksi cinta yang terluka.
Tapi... apakah benar keputusan yang diambil Dirga akan membawa kebaikan bagi Nadira?
Waktu berjalan lambat, jiwanya pun seakan ikut tersesat dalam keputusan yang semestinya tak ia buat. Setelah merasa bulat dengan tekadnya, Dirga melangkah perlahan, mendekati Nadira—membawa luka, membawa kebenaran, membawa perpisahan.