Malam itu, taman kota sepi, hanya diterangi lampu-lampu taman yang kuning temaram. Nadira duduk di bangku kayu, memeluk kedua tangannya sendiri, seakan itu bisa menghangatkan hatinya yang mulai rapuh. Angin menyapa lembut rambutnya yang terurai, membelainya perlahan. Ia menatap ke arah jalan setapak, berharap sosok Dirga segera muncul. Matanya berkaca-kaca, bukan karena duka ibunya, tapi karena hatinya mulai tak tenang. Ada firasat, ada sesuatu yang tak ia mengerti, tapi terasa menekan di dadanya.
Dari kejauhan, Dirga berdiri diam di balik bayangan pepohonan. Matanya tak lepas dari sosok Nadira. Betapa indahnya gadis itu, bahkan saat diliputi kesedihan. Dan betapa hancurnya hatinya karena harus menyakiti seseorang yang begitu ia cintai. “Aku cuma ingin dia bahagia, meski tanpa aku,” gumamnya, dalam hati.
Malam itu, taman akan menjadi saksi cinta yang terluka. Tapi... apakah benar keputusan yang diambil Dirga akan membawa kebaikan bagi Nadira?
Waktu berjalan lambat, jiwanya pun seakan ikut tersesat dalam keputusan yang semestinya tak ia buat. Setelah merasa bulat dengan tekadnya, Dirga melangkah perlahan, mendekati Nadira—membawa luka, membawa kebenaran, membawa perpisahan.
Mungkin, setelah malam ini, Nadira akan membencinya. Tapi Dirga tak punya pilihan lain. Ia telah memutuskan: inilah jalan terbaik, meski harus melukai hati yang paling ia cintai. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang bergemuruh seperti genderang perang dalam dadanya. Setiap langkah terasa berat, seolah membawa beban yang tak kasatmata. Tapi malam ini harus tetap dijalani. Dengan senyum yang dipaksakan, ia menghampiri Nadira yang duduk sendiri di bangku taman. Cahaya lampu taman yang temaram menari di wajah gadis itu, membuatnya tampak rapuh sekaligus indah dalam satu waktu.
“Hai,” sapa Dirga lembut sambil duduk di samping Nadira.
“Hai,” balas Nadira, senyumnya merekah, lega karena akhirnya sosok yang dinantikannya tiba.