“Kenapa? Aku ada salah ya?” tanya Nadira lirih.
Air mata mulai menggenang di sudut matanya, berkilau di bawah sinar lampu taman. Wajahnya memucat, seolah semua warna kebahagiaan yang ada di sana menghilang dalam sekejap. Dia menggigit bibirnya, berusaha menahan isak tangis yang ingin meluncur, takut bahwa tangisnya akan mengungkapkan betapa hancurnya hatinya saat itu.
Dia berharap, mungkin, ini semua hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir. Namun, saat melihat wajah Dirga yang dipenuhi kesedihan dan keputusan yang mantap, harapannya mulai pudar. Nadira mengalihkan pandangannya, menatap ke kejauhan, berusaha menampung semua rasa sakit yang menghimpit dadanya.
“Ga, kamu tahu betapa rapuhnya aku sekarang. Dan kamu memilih untuk pergi? Nadira menarik napas dalam, sebelum melanjutkan. “jika kamu pergi, bagaimana dengan hidupku ke depannya, Ga?” Air mata Nadira akhirnya meluruh membasahi pipi, memandang ke arah depan dengan penuh kehampaan.
“Aku minta maaf, Nadira. Semua ini di luar kuasaku.” Aku juga gak mau berpisah sama kamu. Tapi...” kata-kata Dirga menggantung,
“Tapi apa, Ga?” tanya Nadira sedikit membentak.
“Tapi... aku terpaksa melakukannya,” jawab Dirga, suara seraknya mengkhianati perasaannya yang sedang hancur. “Ada hal-hal yang lebih besar yang harus aku hadapi.”
Nadira menoleh, matanya membesar dengan rasa bingung. “Lebih besar? Apa yang lebih besar dari cinta kita? Apakah kamu sudah mempertimbangkan semua yang telah kita lalui?” Dia menantang, berusaha mencari alasan di balik keputusan yang tidak bisa ia terima.
“Aku tahu, dan itu yang paling menyakitkan bagi diriku juga,” kata Dirga dengan nada penuh penyesalan. “tapi ini bukan semata-mata tentang kita. Ada tanggung jawab yang harus aku penuhi.”
“Tanggung jawab?” Nadira hampir berteriak, suara hatinya merasa diabaikan. “Dirga, tanggung jawabmu seharusnya terhadapku! Kita sudah berjanji untuk saling menjaga satu sama lain.”