Satu Bulan Kemudian
Pagi itu, Nadira membuka matanya dengan perasaan yang sedikit berbeda. Semalam, ia masih tenggelam dalam kenangan yang telah lama berusaha ia lupakan. Namun pagi ini, meski luka masih mengendap, dunia tetap berjalan. Ia sadar, meski dunianya seolah runtuh, waktu tak pernah menunggu siapa pun untuk sembuh.
Ia masih memiliki kelas untuk dihadiri, tugas yang harus diselesaikan, dan hidup yang harus terus ia jalani.
Di lorong kampus, langkahnya lebih ringan dari biasanya. Meski hati belum sepenuhnya sembuh, setidaknya ia sudah mulai terbiasa dengan luka yang ada. Matahari bersinar lembut, menyusup di sela pepohonan, seakan menyambutnya dengan kehangatan. Hari ini, ia ingin mencoba lagi—melanjutkan hidup, sedikit demi sedikit.
Di dalam ruangan kelas. Rania dan Lisa duduk sambil berbincang ringan. Kelas masih sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang sudah hadir lebih awal. Rania dan Lisa tampak tenggelam dalam obrolan kecil, sementara suasana di luar kelas masih dipenuhi keheningan pagi.
Nadira berjalan perlahan di lorong kampus menuju ruang kelas. Pandangannya melirik ke arah halaman kampus, memperhatikan mahasiswa yang sedang berolahraga di bawah sinar matahari pagi yang lembut. Angin sepoi-sepoi menyapa wajahnya, seolah turut memberikan kehangatan. Hari ini, terasa begitu spesial bagi Nadira. Setelah badai yang berkali-kali menenggelamkannya dalam kepedihan, pagi itu ia terbangun dengan hati yang lebih ringan, seakan beban di pundaknya perlahan luruh bersama kabut pagi yang menyelimuti bumi.
Entah apa yang telah mengubah perasaannya menjadi setenang ini—mungkin ketabahannya akhirnya membuahkan hasil, atau mungkin ini adalah karunia yang Tuhan berikan setelah sekian lama ia bersabar. Apapun alasannya, pagi ini Nadira merasa seolah-olah dirinya dilingkupi harapan baru, dan alam sekitarnya pun seolah turut menyambut langkahnya dengan penuh kelembutan.
---
Di dalam kelas
Rania dan Lisa yang sedang asyik berbincang langsung menghentikan percakapan ketika melihat Nadira masuk kelas. Mereka saling menatap sejenak, lalu melambaikan tangan ke arah Nadira.
Rania menyapanya dengan cepat, “Nadira! Eh, barusan banget, Pak Boska nyariin kamu. Katanya kamu disuruh langsung ke ruangannya. Penting banget, katanya.”
Lisa menambahkan dengan nada penasaran, “Iya, kayaknya penting deh. Dia nyuruh kamu langsung ke sana.”
Nadira mengerutkan kening, sedikit terkejut mendengar namanya dipanggil untuk menemui dosen yang jarang memanggil mahasiswa kecuali untuk urusan yang serius. “Oh, gitu ya? Kira-kira ada apa, ya?” gumamnya sambil berusaha tersenyum, meski jelas ada rasa penasaran di wajahnya. Rania dan Lisa hanya mengangkat bahu sambil tersenyum tipis, tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Oke, aku ke sana sekarang deh,” ujar Nadira kemudian, sambil bergegas meninggalkan kelas menuju ruangan Pak Boska, dengan pikiran yang diliputi rasa penasaran.
Begitu sampai di depan pintu dan mengetuk, Nadira mendengar suara dari dalam yang mempersilakan masuk. Ia melangkah pelan ke dalam ruangan, mendapati Pak Boska menyambutnya dengan senyuman hangat yang agak jarang terlihat.