Suara perdebatan di dekat kantin membuyarkan kenangan Nadira. Ia mengerjap pelan, lalu kembali menatap Saka dan Dirga yang masih berdiri berhadapan.
Nadira mengembuskan napas panjang. Ada sesuatu yang terasa sesak di dadanya setiap kali mengingat bagaimana semuanya bermula. Lelaki yang dahulu pernah membuatnya tersenyum kini justru menjadi sosok yang berusaha ia hindari. Sayangnya, masa lalu tak selalu bisa ditinggalkan semudah membalikkan halaman buku.
“Nad, loe ngelihatin apaan, sih?” tegur Rania, menyadari sahabatnya sejak tadi terdiam sambil memandang ke arah yang sama.
Nadira tersentak kecil, lalu menggeleng. “Enggak. Nggak ada apa-apa.”
Ia berusaha mengalihkan pandangan, seolah tak ingin siapa pun mengetahui apa yang baru saja melintas di pikirannya. Namun, sebelum sempat melangkah pergi, suara perdebatan Saka dan Dirga kembali terdengar. Nadira pun tanpa sadar menoleh sekali lagi, menyadari bahwa meski ia berusaha menjauh, masa lalu itu rupanya belum benar-benar selesai.
Pada akhirnya, Nadira memilih mengikuti Rania dan Lisa menuju kantin. Ia berusaha menikmati waktu istirahat seperti biasa, meski pikirannya sesekali kembali pada sosok Dirga dan kenangan yang tanpa diundang muncul di benaknya. Ia tak ingin membiarkan masa lalu mengacaukan hari-harinya lagi. Namun, ia juga tahu bahwa melupakan seseorang yang pernah begitu berarti tidak semudah yang ia bayangkan.
Hari itu pun berlalu, menyisakan perasaan yang tak sepenuhnya bisa ia pahami.
---
Sebuah Awal Baru
Satu Bulan Kemudian
Pagi itu, Nadira membuka matanya dengan perasaan yang sedikit berbeda. Beberapa malam lalu, ia masih tenggelam dalam kenangan yang telah lama berusaha ia lupakan. Namun pagi ini, meski luka masih mengendap, dunia tetap berjalan. Ia sadar, meski dunianya seolah runtuh, waktu tak pernah menunggu siapa pun untuk sembuh.
Ia masih memiliki kelas untuk dihadiri, tugas yang harus diselesaikan, dan hidup yang harus terus ia jalani.
Di lorong kampus, langkahnya lebih ringan dari biasanya. Meski hati belum sepenuhnya sembuh, setidaknya ia sudah mulai terbiasa dengan luka yang ada. Matahari bersinar lembut, menyusup di sela pepohonan, seakan menyambutnya dengan kehangatan.
Hari ini, ia ingin mencoba lagi—melanjutkan hidup, sedikit demi sedikit. Nadira berjalan perlahan, pandangannya melirik ke arah halaman kampus, memperhatikan mahasiswa yang sedang berolahraga di bawah sinar matahari pagi yang lembut. Angin sepoi-sepoi menyapa wajahnya, seolah turut memberikan kehangatan.
Entah apa yang telah mengubah perasaannya menjadi setenang ini—mungkin ketabahannya akhirnya membuahkan hasil, atau mungkin ini adalah karunia yang Tuhan berikan setelah sekian lama ia bersabar. Apapun alasannya, pagi ini Nadira merasa seolah-olah dirinya dilingkupi harapan baru, dan alam sekitarnya pun seolah turut menyambut langkahnya dengan penuh kelembutan.
---
Di dalam kelas
Rania dan Lisa yang sedang asyik berbincang langsung menghentikan percakapan ketika melihat Nadira masuk kelas. Mereka saling menatap sejenak, lalu melambaikan tangan ke arah Nadira.