Pulang Itu Kamu

Bias Divhanka
Chapter #13

SEBUAH AWAL BARU ( Bagian 2 )

Di tempat lain


Saka duduk sendiri di taman kampus—di bangku kayu yang masih basah oleh sisa hujan semalam. Punggungnya bersandar, kepala sedikit tengadah, membiarkan matahari pagi menyentuh wajahnya yang terlihat lelah. Di sekitar, suasana kampus mulai hidup. Mahasiswa berjalan hilir mudik, beberapa tertawa, beberapa sibuk di depan layar ponsel.

Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang terasa nyata bagi Saka.

Dunia di sekelilingnya seperti film bisu. Hanya latar. Tidak menyentuh, tidak menggugah. Ia menatap langit sebentar, lalu kembali menunduk. Tangannya terkatup, menggenggam ponsel yang tak ia buka-buka sejak tadi.

Ia menatap layar kosong, melihat notifikasi yang menumpuk. Pesan dari teman lama, undangan nongkrong dari kenalan baru, dan chat dari ibunya yang sudah seminggu belum dibalas. Tapi tak satu pun dari semua itu terasa punya tempat di hatinya.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Mungkin aku harus mulai dari nol,” gumamnya pelan. Tapi hati kecilnya masih bergetar, takut gagal lagi. Takut menjadi beban bagi orang lain.

Jakarta sudah jadi masa lalu yang ingin ia kubur, tapi bayangannya masih saja menghantui. Kenangan tentang kuliah yang tak ia selesaikan, tentang sahabat yang ia kecewakan, tentang ayah yang tak pernah memberi pelukan sejak kecil. Semua itu seperti hantu yang menetap. Benar-benar mengganggu pikirannya.

Saka menutup mata. Ia lelah. Bukan hanya tubuhnya, tapi jiwanya pun ikut remuk. Setiap pagi adalah perjuangan. Bukan hanya untuk bangun dari tempat tidur, tapi untuk percaya bahwa hari itu pantas dijalani.

Ia ingin berubah, sungguh. Tapi kadang, keinginan saja tidak cukup. Terlalu banyak luka yang membuat langkahnya goyah.

Tiba-tiba, suara tawa membuyarkan lamunannya. Sekelompok mahasiswa bermain bola kecil di dekat taman. Tertawa, berlarian, bercanda. Saka menatap mereka dengan pandangan kosong. Dulu, ia juga seperti itu—tertawa tanpa beban. Kini, semua terasa asing.

“Saka!”

Suara itu membuatnya menoleh. Ari, teman satu kelasnya, berdiri di sisi bangku, menatapnya dengan wajah penuh kekhawatiran.

Lihat selengkapnya