Setibanya di alamat yang dituju, mereka disambut oleh sebuah rumah besar dengan halaman luas. Rumah itu tampak sepi, seolah tak berpenghuni. Pagar besi hitam berdiri kokoh, dengan cat yang mulai memudar. Tanaman rambat menjalar di salah satu sisi tembok, memberi kesan sepi dan sedikit suram. Seakan rumah itu menutup dirinya dari dunia luar.
Nadira mengetuk pintu, menunggu dengan harapan seseorang akan keluar. Namun, setelah beberapa menit, tak ada jawaban.
Rania melirik ke sekeliling. “Jangan-jangan kita salah alamat?”
Lisa menghela napas, mulai merasa tidak sabar. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelepon Saka, namun nada sambung panjang hanya berakhir tanpa jawaban. “Nggak diangkat. Apa dia nggak mau ketemu kita?”
Belum sempat mereka beranjak, suara deru mesin motor tiba-tiba memecah keheningan. Mereka serempak menoleh. Dari kejauhan, sebuah motor besar berwarna hitam melaju mendekat dengan kecepatan sedang. Pengendaranya memakai jaket kulit, dan helm yang menutupi sebagian wajahnya. Dan ia, Saka.
Nadira merasakan detak jantungnya meningkat tanpa alasan yang jelas. Saat motor itu berhenti tepat di depan rumah, Saka turun dengan gerakan santai. Namun, ada sesuatu di wajahnya yang sulit diartikan—seolah ia baru saja kembali dari perjalanan panjang yang melelahkan, bukan secara fisik, tetapi batin.
“Eh, kalian di sini?” Saka menyapa dengan suara rendah, matanya sedikit menyipit saat melihat mereka.
Nadira melangkah maju, mencoba mencari tahu apa yang tersembunyi di balik ekspresi datarnya. “Kami datang untuk mengunjungimu. Pak Boska meminta kami untuk membantumu.”
Saka terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Oh... terima kasih. Maaf kalau aku baru bisa menemui kalian. Aku... baru pulang.”
Jawabannya terdengar biasa saja, tetapi Nadira menangkap sesuatu yang aneh—cara Saka menundukkan kepala, caranya menarik napas seolah sedang menyembunyikan sesuatu. Ada bayang samar di bawah matanya, seperti seseorang yang jarang tidur nyenyak.