Pulang Itu Kamu

Bias Divhanka
Chapter #15

Kala Senyum Itu Kembali ( Bagian 1 )

Seiring berjalannya waktu, keakraban antara Saka, Nadira, dan kedua sahabatnya mulai terjalin lebih erat. Momen-momen sederhana—dari sekadar bercanda di sela-sela jam kuliah hingga saling mendukung saat dibutuhkan—perlahan mengubah pandangan mereka satu sama lain.

Hari-hari berlalu lebih cepat dari yang disadari Nadira. Apa yang dulu hanya sekadar tugas dari Pak Boska, kini terasa lebih dari itu. Hubungan mereka berkembang dengan cara yang tak pernah ia duga. Perlahan, ia menyadari bahwa kehadiran Saka mulai memberi warna baru dalam hidupnya.

Kehangatan pertemanan itu semakin terasa saat mereka menghadapi berbagai tantangan bersama, baik dalam tugas kuliah maupun dalam keseharian. Saka yang sebelumnya cuek dan tertutup, kini tampak lebih terbuka. Ia mulai mengandalkan kehadiran Nadira dan kedua sahabatnya sebagai bagian penting dalam harinya. Dari sanalah muncul sebuah kesadaran baru—rasa kesepian yang selama ini mengakar dalam dirinya perlahan terkikis, digantikan oleh kehangatan dan semangat untuk menjadi lebih baik.

Kini, Saka tak lagi hanya mengikuti kelas demi memenuhi kewajiban. Ia hadir dengan semangat baru, lebih rajin, dan perlahan prestasinya membaik. Tanpa terasa, dukungan Nadira telah menjadi motivasi tersendiri baginya. Ia tak hanya belajar dari materi kuliah, tetapi juga dari makna persahabatan dan ketulusan—sesuatu yang sebelumnya terasa asing baginya.

---

Di sisi lain


Dirga menghentikan motornya di pinggir jalan, tepat di seberang sebuah kafe yang tampak ramai. Awalnya, ia hanya ingin mencari tempat untuk menenangkan pikirannya setelah seharian merasa gelisah. Tapi tanpa sengaja, pandangannya tertuju pada sosok yang sangat familiar di dalam sana.

Nadira.

Dia duduk bersama teman-temannya, termasuk lelaki yang kini sering bersamanya—Saka. Tawa Nadira terdengar lepas, seolah tidak ada lagi jejak luka yang pernah mereka bagi bersama. Dirga menggenggam erat stang motornya, perasaan di dadanya berkecamuk. Ia tak tahu harus merasa lega atau justru semakin hancur.

“Kenapa aku harus kehilangan kebahagiaan itu?” gumamnya pelan.

Dulu, Nadira adalah dunianya. Tawa yang kini ia dengar dari kejauhan dulu pernah menjadi miliknya. Namun, semua itu kini hanyalah bayangan yang tak bisa ia genggam lagi.

Ia menarik napas dalam, mencoba meyakinkan dirinya bahwa Nadira memang berhak bahagia. Tapi, di dalam hatinya yang terdalam, ada penyesalan yang tak bisa ia usir begitu saja. Apakah keputusannya untuk pergi benar-benar keputusan yang terbaik?

Suara klakson kendaraan di belakangnya membuyarkan lamunannya. Dirga menghela napas panjang. Dengan tatapan terakhir ke arah Nadira, ia akhirnya memutar gas motornya, melaju pergi meninggalkan perasaan yang semakin sulit ia kendalikan.

Lihat selengkapnya