Pulang Itu Kamu

Bias Divhanka
Chapter #16

Kala Senyum Itu Kembali ( Bagian 2 )

Saat Ragu dan Rasa Bertemu


Sore itu, mereka duduk berempat di sebuah kafe kecil dekat kampus. Nadira, Rania, dan Lisa asyik menikmati minuman dingin sambil menunggu pesanan makanan, sementara Saka sibuk dengan ponselnya, tampak tenggelam dalam dunianya sendiri.

Rania dan Lisa terus bercanda, mengisi ruangan dengan gelak tawa yang ceria. Tapi Nadira hanya diam, matanya sering mencuri pandang ke arah Saka yang serius menatap layar ponselnya, seolah tak peduli pada apapun di sekelilingnya.

“Kenapa aku malah memperhatikan dia terus?” pikir Nadira, bingung pada dirinya sendiri.

“Eh, Nadira! Kenapa kamu melamun?” Rania menyentuh lengannya, menariknya keluar dari lamunannya.

“Ah, enggak kok,” Nadira menjawab cepat, sedikit terkejut. Ia berusaha menyembunyikan rasa bingung yang tiba-tiba muncul.

“Jangan-jangan kamu jatuh cinta sama Saka, ya?” Lisa menggoda sambil tersenyum lebar.

Nadira langsung merona, menunduk dan menghindari tatapan mereka. “Jangan konyol! Kita cuma teman,” jawabnya sambil mencoba terdengar santai.

Saka yang baru saja mendengar namanya disebut, menoleh ke arah mereka. “Apa yang kalian bicarakan?” tanyanya dengan suara lembut.

“Enggak ada apa-apa, Ka! Cuma ngobrol ringan,” jawab Rania cepat, sambil mengedipkan mata ke arah Nadira.

Nadira menelan ludah, merasa canggung. Setiap kali Saka menatapnya, jantungnya berdegup cepat tanpa bisa dikendalikan. Ia menggigit bibir, berusaha menepis rasa aneh yang mulai muncul di hatinya. Namun, tatapan hangat Saka seolah menembus dinding pertahanannya, membuatnya tak bisa lagi berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Di sisi lain, Saka juga merasakan sesuatu yang berbeda. Sejak Nadira hadir dalam hidupnya, banyak hal berubah. Ia jadi lebih bersemangat menjalani hari, lebih rajin belajar, dan nilai-nilainya pun membaik. Tapi yang paling membuatnya bingung adalah rasa percaya diri yang tumbuh setiap kali berada dekat Nadira — sesuatu yang selama ini jarang ia rasakan.

Setelah makan, mereka memutuskan berjalan-jalan ke taman dekat kampus. Langit sore berwarna oranye keemasan, memberi nuansa magis pada suasana. Udara sejuk dan angin semilir menyapa lembut wajah mereka.

Nadira berjalan di samping Saka, merasakan kehangatan yang mengalir di antara mereka. Langkah mereka selaras, seolah mengikuti irama yang sama. Jantungnya berdetak lebih kencang, sulit untuk mengabaikan kenyataan bahwa ia semakin tertarik pada Saka.

“Duh, kita harus sering-sering kayak gini, ya!” Rania berseru riang, mengayunkan tangan dengan semangat.

“Iya, seru banget!” timpal Lisa, sambil melirik ke arah Nadira dan Saka dengan tatapan penuh arti. “Kalian juga harus sering bareng, biar makin akrab!”

“Eh, jangan ngomong aneh-aneh, ya,” Saka tertawa kecil, menggelengkan kepala.

Lihat selengkapnya