Di Antara Ragu dan Harap
Hari-hari berlalu, dan hati yang kian tumbuh perasaan itu masih terselubungi rasa ragu.
Sejak malam itu, Nadira terus memikirkan perasaannya. Setiap momen yang ia habiskan bersama Saka perlahan menumbuhkan keyakinan di hatinya. Ada rasa yang tak bisa ia abaikan—perasaan yang tumbuh dalam diam, namun begitu nyata. Saat mereka tertawa bersama, saling bertukar cerita, atau sekadar berjalan berdampingan dalam keheningan, hatinya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang berbeda di antara mereka.
Namun, semakin dalam perasaannya, semakin besar pula keraguannya. Bagaimana jika Saka tidak merasakan hal yang sama? Bagaimana jika perasaan ini justru merusak kedekatan mereka?
Sampai akhirnya, di suatu sore yang teduh, saat mereka berkumpul di taman, Nadira merasa waktunya telah tiba. Ia memperhatikan Saka yang tengah berbicara dengan Rania dan Lisa. Tawa Saka yang renyah, senyumnya yang hangat—semuanya membuat jantung Nadira berdebar lebih cepat dari biasanya.
Dengan langkah pelan namun pasti, Nadira maju. Di tengah gelisah yang menyesaki dada, ada keberanian kecil yang tumbuh. Setiap langkah mendekat, setiap napas yang diambil, terasa seperti pertaruhan antara harapan dan keraguan.
Rania dan Lisa tampak menyadari kegelisahan Nadira. Dengan senyum tipis, mereka memberikan semangat dalam diam. Nadira menatap mereka sejenak, lalu menarik napas panjang.
“Ini saatnya.”
“Hey, Saka,” panggil Nadira, suaranya terdengar lebih mantap daripada yang ia kira.
Saka menoleh, senyumnya tetap seteduh biasanya. “Ya, Nadira? Ada apa?”
“Bisa kita bicara sebentar?” tanyanya, mencoba menyembunyikan gemetar yang menyelinap di suaranya.
“Tentu.” Saka berpamitan pada Rania dan Lisa, lalu berjalan bersama Nadira ke tempat yang lebih tenang, di bawah pohon rindang yang memayungi bangku taman.