Pulang Itu Kamu

Bias Divhanka
Chapter #18

Kebenaran Yang Terungkap ( Bagian 1 )

Hari itu, langit tampak pekat, mendung seolah hujan akan segera turun. Di dalam kamar yang sunyi, Dirga duduk termenung di depan jendela. Segelas kopi di meja sudah dingin, sama seperti perasaannya yang membeku sejak ia mengambil keputusan pahit itu. Bayangan Nadira terus berkelebat di benaknya, senyumnya, tangisnya, bahkan suara lembutnya yang kini terasa begitu jauh.

“Apakah ini yang terbaik?” tanyanya kembali dalam hati, tetapi tak ada jawaban.

Lalu, tiba-tiba ponselnya berdering, mengusik lamunannya. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengangkatnya.

“Selamat malam, apa ini dengan Pak Dirga?” suara di seberang terdengar lembut dan profesional, suara seorang wanita yang tampaknya sudah terbiasa berbicara dengan pasien.

“Iya, benar. Ini siapa, ya?” jawab Dirga, sedikit bingung.

“Saya suster Mayang dari rumah sakit. Kami ingin mengabarkan bahwa hasil lab Pak Dirga beberapa waktu lalu ternyata tertukar dengan milik pasien lain. Setelah kami lakukan pengecekan ulang, hasil yang diterima bukanlah milik Bapak.”

Dirga tersentak, tubuhnya membeku. “Apa maksudnya?” tanyanya dengan suara yang serak, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Saya sangat menyesal atas kesalahan ini. Setelah konfirmasi ulang, hasil tersebut milik pasien lain dengan nama yang mirip. Berdasarkan hasil terbaru, Bapak sehat, tidak ada indikasi penyakit yang tertera pada laporan sebelumnya.”

Detik itu, dunia seakan berhenti. Dirga merasakan perasaan lega yang luar biasa, namun juga kepahitan yang menyakitkan menyusup di sela-sela kesadarannya. Selama ini, ia telah menjauhi Nadira, berpikir dirinya sedang sekarat. Semua keputusan yang diambilnya selama ini mendadak terasa sia-sia. Dia telah kehilangan Nadira demi kekeliruan tak terduga ini.

“Saya... sehat?” lirihnya, seakan bertanya kepada dirinya sendiri.

“Iya, Bapak tidak perlu khawatir. Sekali lagi, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini,” lanjut suster itu.

Telepon ditutup, tetapi pikiran Dirga tak berhenti berputar. Rasa sakit yang dirasakannya selama ini kini berubah menjadi amarah pada dirinya sendiri. Dia mengingat wajah Nadira yang penuh kesedihan saat ia meninggalkannya.

Di dalam hati, Dirga tahu, keputusan itu dia buat dengan alasan ingin melindungi Nadira dari kesedihan lebih dalam. Tetapi ternyata, keputusan itu justru menghancurkan keduanya.

Jika saja ia tahu lebih awal, mungkin segalanya tak akan berakhir seperti ini. Mungkin Nadira masih ada di sisinya.

Di sudut lain kota, Nadira mulai menemukan kembali cahaya dalam hidupnya. Hari-harinya perlahan terasa lebih ringan, senyumnya tak lagi dipenuhi kepedihan masa lalu. Saka, dengan caranya yang sederhana, berhasil membawa hangatnya kebersamaan. Setiap canda dan obrolan ringan dengannya seperti lembaran baru yang menggantikan luka-luka lama.

Namun, seiring dengan kebahagiaan yang perlahan menyelimuti, bayangan Dirga masih sesekali muncul di pikirannya. Meski ia telah berusaha menguburnya dalam-dalam, kenangan itu tetap tersisa—seperti luka yang belum sepenuhnya sembuh. Kehadiran Saka memang membawa harapan baru dalam hidupnya, tetapi di sudut hatinya yang paling dalam, Dirga masih ada. Tak tersentuh, tetapi juga tak benar-benar hilang.

Lihat selengkapnya