Antara Maaf dan Luka
Untuk pertama kalinya, mata itu kembali beradu. Ada rindu yang seketika menyeruak sekaligus luka dalam tatap mereka. Tapi... hal itu tak berlangsung lama. Keterkejutan membiaskan rasa yang ada, mengubah tatapan Nadira menjadi ekspresi yang sulit diartikan. Antara rindu, bingung, dan kecewa yang berlapis-lapis. Dirga menelan ludah, berusaha mengendalikan gemuruh di dadanya. “Nadira… Aku… aku datang untuk menjelaskan semuanya,” ucapnya pelan, namun penuh penekanan.
Nadira tetap diam. Sorot matanya berbicara, tetapi bibirnya tetap terkunci. Dirga bisa merasakan pertanyaan, luka, dan mungkin… sisa-sisa perasaan yang belum sepenuhnya padam.
Marina melangkah maju, menatap Nadira dengan sorot mata penuh ketulusan. “Nadira, izinkan aku menjelaskan… Semua yang kamu tahu selama ini, tentang aku dan Dirga, tentang alasan ia meninggalkanmu… itu bukanlah kenyataan yang sebenarnya.”
Suara Marina terdengar lembut, namun mengandung kesungguhan yang tak terbantahkan. Marina berhenti sejenak, memberi waktu bagi Nadira untuk mencerna setiap kata. Udara di antara mereka terasa berat, seakan dipenuhi dengan perasaan yang lama terpendam.