Pulang Itu Kamu

Bias Divhanka
Chapter #21

Di Antara Dua Hati ( Bagian 2 )

Hari berganti


Mentari pagi menyelinap di antara celah jendela, memantulkan bayangan lembut di dinding kamar. Suasana yang tenang tak mampu meredakan kegelisahan di dada Nadira. Ia duduk di tepi tempat tidurnya, menatap ponsel yang sejak tadi bergetar pelan di atas meja. Nama Saka terus muncul di layar. Berkali-kali.

Namun, jarinya tetap tak bergerak. Hatinya belum bulat. Ia menatap layar itu seperti menatap simpang jalan. Tak satu pun terlihat mudah.

“Aku harus membuat keputusan...” bisiknya lirih.

Tangannya perlahan meraih ponsel. Ia mulai mengetik sesuatu. Hanya satu kalimat sederhana: “Aku juga ingin bertemu.” Tapi sebelum sempat menekan tombol kirim, jempolnya berhenti. Lalu, pesan itu dihapusnya. Ia menarik napas panjang, menggigit bibir bawahnya. Kepalanya penuh dengan suara-suara, keraguan, dan bayang-bayang masa lalu yang belum sepenuhnya pergi.

Beberapa jam kemudian, di kampus, ia memilih tempat yang tenang: sebuah bangku kayu di bawah pohon rindang yang sering jadi tempatnya menenangkan diri. Udara pagi yang sejuk menyapa wajahnya, namun pikirannya tetap berat. Keputusan yang ia buat pagi tadi seperti tak berhenti berputar dalam kepala.

“Nadira!” suara ceria itu membuatnya sedikit terlonjak.

Ia mendongak. Rania, sahabatnya, berdiri di depannya sambil tersenyum. Tanpa menunggu, Rania duduk di sampingnya.

“Apa kabar? Kamu kelihatan kacau,” katanya, separuh bercanda, separuh khawatir.

Nadira terkekeh lemah. “Aku cuma... lagi kepikiran banyak hal.”

Rania menatapnya dalam-dalam. Tatapan sahabat yang mengenal gelisah meski tanpa kata. “Aku dengar kamu sudah memilih untuk bersama Saka.”

Detak jantung Nadira bertambah cepat. Ia menunduk, menggenggam ujung bajunya. “Aku merasa... Saka bisa buat aku bahagia. Dia selalu ada. Dia nggak pernah ninggalin aku.”

Rania mengangguk pelan, namun tak tersenyum. Sorot matanya berubah lebih serius.

“Tapi... bagaimana dengan Dirga?”

Pertanyaan itu seperti badai kecil di dalam dada Nadira. Ia menoleh pelan, matanya tampak berkaca-kaca. Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang menggantung, seolah-olah angin pun menunggu suaranya. Karena di sanubarinya, Dirga masih ada. Dan luka yang belum sembuh itu, belum tentu bisa tertutup hanya karena hadirnya seseorang yang baru.

---

Kukira Aku yang Kau Pilih


Esok harinya

Langit tampak cerah pagi itu, namun hati Nadira terasa seberat batu. Setelah malam panjang yang dipenuhi renungan dan gelisah, ia tahu—sudah waktunya. Keputusan yang menyakitkan, tapi tak bisa dihindari.

Bersama Saka, mereka melangkah perlahan menuju taman tempat mereka berjanji bertemu. Taman itu lebih sepi dari biasanya. Angin berhembus pelan, menggoyang daun-daun, seakan turut merasakan berat langkah mereka.

“Nadira, kamu yakin dengan keputusan ini?” tanya Saka, suaranya lembut tapi sarat kegelisahan.

Nadira menarik napas dalam-dalam, lalu menggenggam jemarinya sendiri. “Iya. Aku harus melakukannya. Ini yang terbaik... untuk semua.”

Langkah mereka mendekat ke bangku panjang—tempat Dirga biasa duduk. Sosok itu sudah ada di sana. Duduk dengan kepala sedikit menunduk, pandangan kosong tertuju ke hamparan taman. Seolah pikirannya melayang jauh ke tempat yang tak bisa dijangkau siapa pun.

Lihat selengkapnya