Hampa Setelah Pilihan
Hari-hari setelah keputusan itu terasa seperti kabut tebal bagi Nadira. Dunia di sekitarnya tetap berputar seperti biasa—teman-temannya masih tertawa, kelas-kelas berjalan sebagaimana mestinya, dan kehidupan terus melaju tanpa jeda. Tapi bagi Nadira, semuanya terasa seperti film bisu—hambar dan jauh, seolah ia berada di luar dari semuanya.
Saka selalu ada di sisinya. Ia menggenggam tangan Nadira saat mereka berjalan, mengajaknya bicara, berusaha membuatnya tertawa. Namun di balik setiap tawa yang mereka bagi, Nadira merasakan sesuatu yang hampa. Ada ruang kosong dalam hatinya yang tetap tak bisa terisi, sekuat apapun Saka mencoba.
Di kampus, mereka berjalan berdampingan. Tapi pikiran Nadira melayang jauh. Matanya tertuju pada bangku di bawah pohon besar—tempat Dirga biasa duduk. Bayangan laki-laki itu muncul dalam benaknya, tersenyum lemah saat terakhir mereka bertemu, mengucapkan perpisahan yang menyayat jiwa.
“Nadira?”
Suara Saka membuyarkan lamunannya. Nadira menoleh, mendapati Saka menatapnya dengan kening berkerut.
“Kamu dengar nggak, tadi aku ngomong apa?”
Nadira terhenyak. “Maaf, Saka. Aku cuma… sedikit nggak fokus.”
Saka terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. Matanya memancarkan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. Ia menggenggam tangan Nadira lebih erat, seolah takut kehilangan.
Tapi sentuhan itu—lembut dan penuh perhatian—justru membuat hati Nadira makin kacau.
Mereka terus melangkah, tapi di dalam dirinya, dua sisi terus bertarung: satu ingin melangkah maju bersama Saka, dan satu lagi… tak sanggup melepaskan Dirga.
Malam itu, Nadira duduk di tepi jendela kamarnya, menatap langit bertabur bintang. Angin malam masuk melalui celah, membelai wajahnya dengan kelembutan yang memilukan.
Ia meraih ponselnya, membuka galeri, dan menemukan foto-foto lama bersama Dirga. Tangannya gemetar saat menyentuh layar, menelusuri kenangan yang masih terasa begitu nyata.
Tawa mereka. Tatapan hangatnya. Pelukan yang pernah menjadi tempat paling nyaman baginya.
Air mata perlahan menetes di pipinya.
“Apakah ini keputusan yang benar?” bisiknya.