Hari-hari berlalu dalam sunyi yang menyayat, mengurung sisi terdalam Nadira dalam perenungan yang pilu. Ia mencoba memahami arti perpisahan—bukan lewat kata, tapi lewat keheningan yang menggema di relung jiwa.
Suatu sore, di balik pohon besar yang menghadap taman kecil di pinggir kota, Nadira berdiri diam. Matanya tak lepas dari sosok Dirga yang duduk sendirian di bangku tua, tempat kenangan dulu berlabuh. Bahunya membungkuk, napasnya berat, pandangannya kosong—seperti seseorang yang kehilangan arah namun tetap menolak pergi dari tempat yang menyimpan seluruh kenangan bahagianya.
Nadira menggigit bibir. Dadanya sesak. Ia tak tahu sejak kapan hatinya membiasakan langkah untuk kembali ke taman ini, mengikutinya dari jauh, meski tak pernah cukup berani untuk menyapa.
Tanpa disadari, langkahnya pun diikuti oleh seseorang—Saka.
Sudah beberapa waktu Saka menyadari ke mana Nadira pergi setiap sore. Ia tak bertanya, hanya mengamati dari jauh, menimbang perasaannya sendiri. Tapi hari ini, melihat Nadira berdiri dengan mata berkaca, ia tak mampu lagi membisu.
Langkah Saka perlahan mendekat. Suara sepatunya menggesek tanah, berpadu dengan angin senja yang lirih. Nadira terkejut, buru-buru menyeka air matanya.
“Saka... aku... aku bisa jelaskan,” suara Nadira bergetar, seperti embun di ujung daun.
Tapi Saka hanya tersenyum tipis, tak dengan amarah, melainkan pemahaman yang pahit. “Kamu nggak perlu jelasin apa-apa, Nad. Aku sudah mengerti.”
Nadira menunduk. Rasa bersalah mencekik tenggorokannya. Sunyi menggantung di antara mereka, hanya angin yang menjadi saksi.
“Maafkan aku, Saka…” bisiknya lirih. “Aku sudah mencoba. Aku benar-benar mencoba mencintaimu. Tapi... setiap kali melihat Dirga seperti ini, hatiku patah lagi. Aku nggak bisa membohongi diriku sendiri.”
Saka menarik napas panjang. Tatapannya teduh, meski menyimpan luka yang dalam. “Aku tahu kamu berusaha. Tapi aku juga tahu... cinta yang kamu simpan buat Dirga, nggak bisa digantikan siapa pun.”
Nadira tak mampu berkata apa-apa. Air matanya mengalir, perlahan tapi pasti.
Saka kembali bicara, suaranya tenang namun menggetarkan, “Kalau kamu masih menyayanginya, aku rela mundur. Aku nggak mau jadi tempat kamu menyembunyikan rasa yang belum selesai. Kamu pantas bahagia, Nadira—dengan siapa pun yang benar-benar kamu cintai.”
Nadira menggenggam jemarinya, berusaha menahan tangis. “Kenapa kamu sebaik ini, Saka?”
Saka tersenyum getir. “Karena cinta, sejatinya tak pernah memaksa. Aku ingin jadi tempat pulang, bukan pelarian. Dan kalau bukan aku yang kamu tuju… tak apa. Aku tetap mendoakanmu bahagia.”
Saka menepuk bahunya perlahan, lalu berbalik. Langkahnya meninggalkan jejak tenang, tapi hati yang remuk tak bersuara. Nadira hanya bisa berdiri, membiarkan air mata jatuh bersama kesadaran: cinta sejatinya tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu dipanggil pulang.
---
Malam itu, taman yang dulu penuh tawa kini diselimuti sunyi. Dirga berdiri sendiri, membiarkan angin menyapu rindu yang tak kunjung usai. Ia memejamkan mata, membiarkan wajah Nadira mengambang dalam ingatan, membiarkan kenangan menyiksa pelan-pelan.
Dari kejauhan, Nadira menatapnya. Rindu dan gemetar bersatu dalam langkahnya. Ia tak tahu apa yang menantinya, tapi satu hal pasti—ia tak bisa terus menyangkal isi hatinya.
Perlahan, ia mendekat.
“Dirga…”