Malam itu, langit seolah enggan berbagi cahaya. Gelap, kosong, tanpa bintang. Angin berhembus lirih, menggoyangkan dedaunan yang bersuara seperti bisikan sunyi. Di bawah temaram lampu taman, seorang gadis duduk diam, merangkul lututnya sendiri. Wajahnya sembab, matanya tersembunyi di balik genangan air mata yang tak kunjung kering.
Nadira…
Gadis itu baru saja kehilangan ibunya. Dan kini, seakan luka itu belum cukup dalam, Dirga—lelaki yang ia sayangi selama empat tahun—pergi meninggalkannya tanpa penjelasan yang benar-benar ia pahami.
Sesak.
Seperti ada duri yang mengendap di dada, menyiksa setiap tarikan napasnya. Cinta yang selama ini ia jaga sepenuh hati, hancur dihempas oleh keegoisan yang tak pernah ia duga. Ia memejamkan mata, berharap ada ketenangan dalam gelapnya pandangan, tetapi yang muncul justru kenangan—satu per satu, datang menari dalam kepala.
Empat tahun bukan waktu yang sebentar. Mereka melewati banyak suka dan duka, merangkai mimpi yang kini hanya tinggal serpihan. Semuanya lenyap begitu saja, seperti kaca yang pecah—tak ada yang bisa mengembalikannya utuh tanpa menyisakan luka.
Nadira menggenggam jemarinya sendiri, mencoba menahan gelombang emosi yang nyaris meluap.