Rania, sahabat Nadira, berdiri gelisah di depan pintu kelas kampusnya. Jam sudah hampir menunjukkan waktu dimulainya perkuliahan, tapi Nadira belum juga muncul. Rania dan Nadira sudah berteman sejak SMP. Mereka lebih dari sekadar sahabat—mereka seperti saudara, saling menopang dalam setiap suka dan duka. Dan Lisa, sahabat mereka yang lain, hadir dalam hidup mereka lewat cara yang tak biasa.
Hari pertama masuk SMA, Nadira dan Rania melangkah penuh semangat menuju kelas baru mereka. Suasana masih riuh, murid-murid sibuk mencari tempat duduk. Namun perhatian mereka langsung tertuju pada seorang gadis berambut pendek yang berdiri di atas kursi, tangannya terangkat ke udara seperti seorang orator ulung.
“Perhatian semuanya! Mulai hari ini, gue resmi mendeklarasikan diri sebagai ketua persahabatan di kelas ini. Jadi, kalau ada yang butuh teman, daftar ke gue aja!” serunya lantang.
Nadira dan Rania saling pandang dengan alis terangkat, lalu terkekeh bersamaan. Gadis itu terlihat percaya diri—atau mungkin agak aneh. Tapi siapa sangka, dari pertemuan absurd itu, lahir ikatan yang tak pernah mereka duga. Sejak hari itu, mereka bertiga tak terpisahkan.
Kini, bertahun-tahun setelahnya, di depan kelas kampus, Rania menghela napas panjang. Jemarinya mengetuk-ngetuk buku yang ia peluk, pertanda kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan. Pandangannya terus menyapu lorong, berharap melihat sosok Nadira muncul di antara mahasiswa yang lalu lalang.
Tiba-tiba, suara langkah tergesa terdengar mendekat.
“Hey, kamu tahu Nadira di mana?” Lisa muncul dengan napas memburu, wajahnya dipenuhi kecemasan yang disamarkan dengan nada suara lebih keras dari biasanya.
Rania tersentak kecil. “Astaga, Lisa! Bikin jantungan aja,” keluhnya sambil menepuk dadanya pelan, lalu menggeleng. “Belum tahu. Ini juga aku lagi nungguin dia. Aku cemas kalau dia nggak datang.”
Lisa mendengus pelan, menyilangkan tangan di dada. “Kita semua tahu Dirga bukan orang yang baik. Kenapa dia masih peduli padanya? Aku takut dia semakin terluka kalau terus seperti ini.”
Nada tajam Lisa menampar udara di antara mereka. Rania memutar tubuh, menatap Lisa lekat-lekat. “Jangan bilang begitu. Kamu nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bisa jadi... Nadira masih berjuang buat sembuh dari semua itu.”
“Tapi kalau dia terus-terusan kayak gini, dia bakal makin hancur. Aku benci lihat dia kayak orang yang kehilangan arah,” kata Lisa, hampir berteriak, emosinya meledak-ledak.