Pulang Itu Kamu

Bias Divhanka
Chapter #3

Bab 3— Sapaan Hangat Dalam Dinginnya Hujan


Bandung pagi itu murung. Langit kelabu menggantung di atas, udara dingin menyusup ke balik jaket tipis. Dari dalam angkot yang tersendat di tengah lalu lintas, seorang pemuda bernama Saka menatap arlojinya, jemarinya mengetuk lutut dalam ritme cemas.

“Pak, stop di sini, Pak!” serunya.

Angkot berhenti, ia cepat merogoh saku, menyerahkan uang dan melambaikan tangan. Tanpa menunggu balasan, ia melompat turun, berlari kecil menuju gerbang Universitas Padjadjaran di Dipati Ukur. Hujan rintik mulai turun, membawa aroma tanah basah yang khas. Saka menarik napas panjang, membiarkan aroma itu menenangkan pikirannya yang riuh.

Hari ini adalah awal baru. Bandung, kota jauh dari kegagalan dan tatapan kecewa orang tua, kini menjadi tempatnya memulai kembali. Hujan yang semakin deras tak lagi mengganggu; ia hanya peduli pada satu hal: memperbaiki arah hidupnya.

Sejak kecil, Saka hidup dalam kemewahan, tapi tanpa kehangatan. Rumah luas, fasilitas lengkap, tapi kasih sayang minim. Pertengkaran orang tua dan kesendirian membuatnya kehilangan arah, sampai akhirnya kampus lama di Jakarta memutuskan untuk mengeluarkannya. Kata itu masih perih. Kini, ia ada di sini, menatap bangunan kampus yang asing tapi penuh harapan.


---


Awal Pertemuan yang Menyebalkan


Hujan rintik itu berubah menjadi deras. Nadira mulai mempercepat langkahnya.

Lihat selengkapnya