Di kelas
Nadira masuk ke kelas dengan napas sedikit memburu. Rania, yang duduk di kursinya, langsung menoleh dengan ekspresi khawatir. “Kamu dari mana saja sih, Nad? Jam segini baru datang!”
“Iya, maaf, tadi aku kesiangan,” ujar Nadira seadanya. Padahal, bukan itu alasan sebenarnya.
“Untung saja Pak Boska juga datang terlambat. Kalau enggak, sudah habis kamu diceramahin panjang lebar!” kata Rania lagi sambil tersenyum lega.
“Oh ya! Lisa enggak masuk?” Nadira melirik kursi kosong di sebelahnya.
“Dia lagi ke toilet dulu.”
Nadira mengangguk, lalu mengembuskan napas pelan. Sejujurnya, kepalanya masih dipenuhi rasa kesal karena kejadian di koridor kampus barusan. Namun, tepat saat ia hendak bercerita kepada Rania, pintu kelas terbuka. Pak Boska masuk dengan langkah santai, tapi perhatian Nadira langsung terpaku pada seseorang yang berjalan di belakang dosen itu.
Langkahnya membeku.
Astaga... yang benar saja!
Lelaki yang tadi pagi membuatnya naik darah kini berdiri di depan kelas, bersama Pak Boska.
“Huh, dasar sial!” Nadira mengumpat dalam hati, lalu buru-buru mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Namun, rasa kesalnya tetap tidak bisa ditutupi.
“Kenapa harus dia sih?” gumamnya lagi.
Di sisi lain, Saka juga terkejut. Tatapan mereka bertemu sejenak, lalu sama-sama berbalik dengan ekspresi kesal.
“Pagi, anak-anak,” sapa Pak Boska. “Hari ini, kita kedatangan mahasiswa baru di kelas ini.” jelasnya.
Semua mahasiswa mulai berbisik penasaran.
“Silakan perkenalkan dirimu,” ujarnya kembali.
Saka menelan ludah, lalu mulai memperkenalkan diri. Tapi, di sudut matanya, ia bisa melihat Nadira duduk dengan wajah masam, jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya.