Deru mesin bus antarkota kelas ekonomi itu akhirnya mereda, meninggalkan kepulan asap hitam pekat yang membumbung di tepi pertigaan jalan beraspal retak. Arka berdiri mematung di pinggir jalan koral, menyandang ransel hijau kusamnya yang terasa dua kali lebih berat dari biasanya. Sepatunya yang penuh debu jalanan menyentuh lapisan tanah berkerikil—sebuah pijakan yang rasanya asing sekaligus mengerikan bagi kakinya yang selama lima tahun terakhir hanya terbiasa menyusuri ubin granit kantor dan trotoar beton Ibu Kota.
Di luar, angin pesisir bertiup kencang tanpa hambatan, membawa aroma asin air laut yang pekat berbaur dengan bau tanah basah sisa hujan semalam. Suara deburan ombak dari balik bukit samar-samar terdengar, bersahut-sahut dengan bisikan angin yang menyapu dedaunan pohon jati di sepanjang lereng.
Teluk Seroja. Desa pesisir sunyi yang dulu pernah ia sumpahi tidak akan pernah ia datangi lagi.
Sudah lima tahun. Lima tahun sejak malam penuh teriakan dan cangkir pecah itu. Lima tahun sejak Arka mengepak satu-satunya tas yang ia miliki, menaiki bus malam, dan bersumpah akan membuktikan pada almarhum Ayahnya bahwa ia bisa bertahan hidup tanpa bantuan atau bayang-bayang nama besar keluarga di desa ini.
Arka merogoh saku jaketnya, menarik keluar ponsel pipih dengan layar retak tipis di sudut atasnya. Ponsel itu berada dalam mode terbang sejak ia menaiki bus di terminal awal, tetapi tangkapan layar pesan singkat dari kontak bertuliskan "Renata" masih terpampang jelas di layarnya.
Pesan itu dikirim tiga hari lalu lewat aplikasi perpesanan. Singkat, tanpa salam pembuka, dan tanpa basa-basi:
"Ibu masuk IGD tadi malam. Jantungnya melemah lagi. Kalau kamu masih punya nurani dan ingat jalan pulang, datanglah."
(Disertai lampiran foto buram lembar rujukan rumah sakit daerah)
Arka mematikan layar ponselnya, membiarkan pantulan wajahnya yang kusam dan lingkaran hitam di bawah matanya tercermin di kaca yang gelap. Grafik detak jantung yang lemah pada lembar rujukan di foto itu masih terbayang jelas di kelopak matanya. Ia mengatupkan rahang rapat-rapat, meremas ponsel di genggamannya hingga buku-buku jarinya memutih, lalu memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam saku.
Ia menarik napas panjang melalui hidung, membiarkan udara dingin dan lembap pesisir memenuhi paru-parunya yang terbiasa disesaki udara ber-AC. Rasa sesak yang tumpul mendadak bersarang di tengah dadanya—sebuah perasaan familiar yang selalu muncul setiap kali memori tentang rumah panggung kayu beratap seng di tepi dermaga itu mendadak melintas.
Ia mulai melangkah. Setiap pijakan sepatunya di atas batu-batu koral terasa amat berat, seolah-olah tanah kelahirannya sendiri sedang menolak kepulangan sang anak sulung yang telah lama melarikan diri.
Jalan setapak menuju rumahnya tidak banyak berubah, hanya makin menyempit oleh semak belukar yang tak terurus. Rumah itu masih berdiri kokoh di tempat yang sama, tepat di penghujung jalan setapak yang berbatasan langsung dengan hamparan pasir pantai keabu-abuan.
Namun, waktu tidak bersikap ramah pada bangunan tua itu. Cat dinding kayunya yang dulu berwarna biru benhur kini telah mengelupas hebat, menyisakan serat-serat kayu tua yang mengering dan lapuk dimakan uap garam. Di bagian samping rumah, papan nama kayu bertuliskan kedai kopi dan perpustakaan kecil "Dermaga Lama" masih menggantung miring, ditopang oleh satu engsel besi yang sudah berkarat parah.
Arka berhenti di depan pagar kayu setinggi pinggang. Engselnya sudah melenceng dari porosnya, membuat pintu pagar itu sedikit amblas ke dalam tanah. Tangannya terangkat, melayang beberapa sentimeter di atas selot kayu pagar. Jarinya bergetar pelan. Ada ketakutan aneh yang merayap di bawah kulitnya—ketakutan bahwa tempat yang dulu menjadi pelindungnya kini telah berubah menjadi asing sepenuhnya, atau lebih buruk lagi: ia yang tidak lagi memiliki tempat di dalamnya.
Klek.
Suara engsel kayu berderit nyaring saat Arka mendorong pagar itu pelan. Ia menyusuri halaman samping yang dulu dipenuhi tanaman bunga kertas warna-warni milik Ibunya, namun kini hanya menyisakan rumput liar dan dedaunan kering yang berguguran tak terurus.
Ia melangkah naik ke teras kayu. Setiap anak tangga berderit pelan menyambut bobot tubuhnya. Sebelum sempat ketukan jarinya mendarat di permukaan pintu depan, daun pintu kayu tebal itu mendadak terbuka dari dalam.
Seorang perempuan muda berdiri tegak di ambang pintu.