Pulang ke Garis Pesisir

Mario Moses Alexander Resimau
Chapter #2

Aroma Minyak Kayu Putih dan Lorong Tua

Udara di dalam lorong kayu rumah panggung itu terasa tebal dan lembap. Setiap kali Arka mengayunkan langkahnya, papan lantai berderit pelan—sebuah nada berulang yang seolah-olah menghitung mundur setiap detik kepulangannya. Di dinding papan tempat ia melangkah, bayangan tubuhnya terpantul samar di atas permukaan kayu yang mengilap kusam oleh usia.

​Arka berhenti di ambang pintu kamar almarhum Ayahnya. Pintu itu sedikit terbuka, menghembuskan aroma yang sangat familiar ke wajahnya: perpaduan bau kertas tua, cat minyak mengering, dan tembakau cengkih yang tertinggal dari selinting rokok bertahun-tahun lalu.

​Ia memutar gagang pintu yang berkarat. Suara engsel berdecit nyaring saat pintu terdorong ke dalam.

​Kamar itu berukuran tidak terlalu luas, tetapi langit-langitnya yang tinggi membuat udara di dalam terasa lebih dingin daripada di lorong. Cahaya sore yang mulai meredup menembus sela-sela tirai kain belacu warna gading, memproyeksikan garis-garis terang menyerong di atas lantai.

​Di sudut ruangan, sebuah meja kerja dari kayu jati tebal masih berdiri kokoh. Di atasnya, tersusun beberapa tumpukan buku bersampul keras, sebuah mesin ketik manual warna abu-abu yang ditutupi kain plastik tipis, serta sebuah tempat pensil keramik yang retak di sisinya.

​Semuanya persis seperti saat Arka meninggalkannya lima tahun lalu. Tidak ada satu pun barang yang bergeser. Renata benar-benar membiarkan tempat ini menjadi museum kecil untuk kenangan Ayah mereka.

​Arka meletakkan ransel hijaunya di atas kursi kayu dekat jendela. Bunyi gedebuk pelan dari tasnya menerbangkan debu-debu halus yang berkilauan ditimpa sinar matahari sore. Ia menarik napas panjang, meresapi rasa hampa yang tiba-tiba merayapi dadanya. Di meja inilah dulu Ayahnya selalu duduk hingga larut malam, mencoret-coret lembaran kertas kerja dengan kacamata baca berkaki dua yang menggantung di ujung hidungnya. Dan di meja ini pula, lima tahun lalu, kertas-kertas itu berhamburan ke lantai saat Arka memukul permukaannya keras-keras.

​"Kamu anak sulung, Arka! Kamu punya tanggung jawab di sini!"

​Suara berat Ayahnya seolah-olah bergaung kembali di sudut-sudut ruangan, tajam dan menggema di dalam kepalanya.

​Arka memejamkan mata rapat-rapat, mengusap wajahnya yang terasa panas. Ia tidak ingin membuka kembali peti kenangan itu. Tidak hari ini.

​Ia melangkah mendekati meja kerja, jemarinya melayang di atas permukaan mesin ketik tua. Di dekat alas mesin ketik, ada sebuah bingkai foto kayu berukuran sedang. Arka menurunkan pandangannya. Foto di dalam bingkai itu sudah membayang kekuningan. Di sana, seorang pria paruh baya tersenyum tipis ke arah kamera, merangkul dua anak kecil yang memegang es lilin di tepi pantai. Arka kecil tersenyum lebar menunjukkan giginya yang ompong, sementara Renata kecil mengkerutkan dahinya, terganggu oleh silau sinar matahari.

​Jemari Arka mengusap kaca bingkai foto yang berdebu. Dulu, ia selalu berpikir bahwa senyum Ayahnya di foto itu adalah senyum palsu—sebuah tuntutan kesempurnaan yang dipaksakan pada keluarga. Namun sore ini, melihatnya kembali setelah lima tahun bertarung di dunia luar, Arka menyadari betapa lelahnya sepasang mata di dalam foto tersebut.

​Suara dentang panci dan aroma gurih kuah sup yang mendidih dari arah dapur memecah kesunyian rumah.

​Arka melangkah keluar dari kamar Ayahnya, menyusuri lorong menuju bagian tengah rumah. Langkah kakinya membawa dirinya ke depan kamar Ibunya sekali lagi. Pintu kamar itu kini terbuka sedikit lebih lebar.

​Di dalam, lampu kamar yang memancarkan cahaya kuning hangat sudah dinyalakan. Suara derit dipan kayu terdengar pelan, disusul oleh helaan napas berat yang putus-putus.

​Arka mengetuk kusen pintu dua kali. "Ibu?"

Lihat selengkapnya