Pagi di Teluk Seroja selalu datang bersama kabut tipis yang beraroma asin dan suara jeritan camar yang terbang rendah di atas permukaan air. Matahari baru saja terbit menyembul di balik garis horizon, memancarkan sinar jingga pucat yang memantul di kaca-kaca jendela kedai.
Arka terbangun sebelum jam lima pagi. Tubuhnya terasa pegal akibat tidur di atas dipan kayu tua kamar almarhum Ayahnya yang agak membungkuk di bagian tengah. Setelah memastikan Ibunya masih tertidur pulas dengan hembusan napas yang teratur, Arka memutuskan untuk menyusuri pintu penghubung antara rumah utama dan kedai kopi "Dermaga Lama".
Suara derit pintu kayu terdengar kontras di dalam ruangan kedai yang masih sunyi.
Ruangan kedai itu tidak terlalu luas, namun memiliki langit-langit kayu yang tinggi dengan tatanan yang hangat. Di sisi kiri, terdapat rak-rak buku kayu setinggi dua meter yang dipenuhi ratusan novel tua, ensiklopedia kusam, serta majalah-majalah bekas yang jilidannya mulai terkelupas. Di sisi kanan, berjejer lima meja kayu rakitan sendiri dengan kursi-kursi jengki antik yang warnanya mulai pudar.
Di bagian depan, tepat menghadap ke arah pantai melalui jendela kaca besar yang kusam, berdiri sebuah konter kayu jati gelap. Di atasnya terkulai sebuah mesin kopi manual tuas berwarna perak kusam—sebuah mesin klasik peninggalan Ayah yang dulu selalu dibanggakan karena merupakan satu-satunya mesin kopi manual di seluruh wilayah pesisir desa ini.
Arka melangkah mendekati konter. Tangannya terulur menyentuh permukaan portafilter besi yang dingin. Kenangan masa lalu mendadak berputar kembali di kepalanya. Dulu, saat ia masih duduk di bangku SMA, Ayahnya selalu mengajarkannya cara menakar bubuk kopi, menekan tamper dengan sudut sembilan puluh derajat, dan mendengarkan desis uap air yang keluar dari katup pemanas.
"Kopi itu soal presisi dan kesabaran, Arka," suara Ayah kembali terngiang. "Kalau kamu terburu-buru, rasanya cuma bakal menyisa pahit yang bikin tenggorokan sakit."
Arka tersenyum tipis—sebuah senyum hampa. Waktu itu, ia menganggap nasehat Ayahnya sebagai omong kosong yang menggurui. Kini, di hadapan mesin tua yang penuh noda uap air ini, Arka baru menyadari betapa Ayahnya berusaha mengajarinya cara menjalani hidup.
Arka mengambil selembar kain lap kusam di bawah konter, lalu mulai menyapu debu halus yang menempel di atas permukaan mesin kopi. Ia mengambil cairan pembersih kaca, menyemprotkannya ke kaca jendela depan, dan mengusapnya dengan gerakan memutar yang teratur. Ia ingin berguna. Ia ingin membuktikan bahwa kedatangannya kembali ke rumah ini bukan sekadar menjadi beban tambahan bagi adiknya.
Klek.
Pintu belakang kedai terdorong terbuka. Renata melangkah masuk dengan rambut yang sudah terikat rapi ke belakang dan celemek linen krem yang melingkari pinggangnya.
Langkah kaki Renata mendadak terhenti begitu melihat Arka berdiri di belakang konter dengan kain lap di tangan. Wajah Renata yang baru saja tersapu kesegaran air wudu mendadak mengeras kembali.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Renata. Suaranya rendah, namun ketajamannya cukup untuk menghentikan gerakan tangan Arka.
Arka menyapu sisa noda pembersih kaca dengan kain lap. "Mesin kopi ini debunya tebal sekali, Re. Kaca depan juga penuh bercak uap garam. Aku cuma rapikan sedikit sebelum kedai buka."