Pulang ke Garis Pesisir

Mario Moses Alexander Resimau
Chapter #4

Surat yang Tak Pernah Dikirim

​Matahari siang merayap naik ke puncak tertinggi langit Teluk Seroja, menembus celah-celah atap seng dan membakar udara di dalam kamar belakang menjadi hangat dan pengap. Suara deru angin laut yang biasanya menenangkan kini terdengar kian membosankan, membawa aroma asin yang terperangkap di dalam ruangan tanpa ventilasi memadai itu.

​Arka berlutut di lantai papan kayu kamar almarhum Ayahnya. Di hadapannya, sebuah lemari arsip kecil dari besi berwarna hijau telur asin yang kusam berdiri terkunci. Di atasnya, tumpukan berkas tagihan puskesmas, resep dokter, dan kuitansi obat-obatan jalan yang berhasil ia kumpulkan dari meja dapur berserakan tak teratur.

​Ia memegang sejuntai kunci kuningan tua yang baru saja ia dapatkan dari laci meja tempat tidur Ibunya. Setelah memastikan Renata sedang sibuk melayani dua orang pembeli lokal di kedai depan, Arka memasukkan kunci itu ke dalam lubang selot lemari besi.

Klek.

​Bunyi engsel besi berkarat terdengar nyaring saat Arka menarik laci paling bawah. Bau kusam khas kertas tua berdebu yang lama tidak tersentuh udara segar langsung menyergap penciumannya.

​Arka menyapu pandangannya ke dalam laci. Di sana tersusun rapi beberapa stopmap folio berwarna cokelat. Kebanyakan berisi sertifikat tanah kedai, dokumen akta kelahiran, serta surat-surat tagihan bank yang sudah diberi cap pelunasan. Namun, di sudut paling dalam laci, sebuah kotak kayu jati berukuran sedang dengan ukiran bunga melati melengkung di bagian penutupnya menyita perhatian Arka.

​Kotak kayu itu tidak terkunci. Dengan jemari yang dilapisi debu halus, Arka mengangkat penutup kotak kayu tersebut.

​Di dalamnya tidak ada perhiasan atau sertifikat berharga. Hanya ada seikat amplop kertas berwarna putih gading yang sudut-sudutnya telah menguning dan rapuh dimakan usia. Ikatan tali rami yang melingkarinya mulai melapuk. Arka mengambil tumpukan amplop itu, membaliknya perlahan, dan mendadak tubuhnya membeku di tempat.

​Di bagian depan setiap amplop, tertera nama dan alamat yang sangat ia kenal—ditulis tangan dengan tinta hitam bergaya krambil yang tegas dan rapi:

Arka Pradipta

Jl. Senopati No. 42, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

​Itu adalah alamat kos pertama Arka saat ia tiba di Jakarta lima tahun lalu—alamat yang sengaja tidak pernah ia berikan kepada siapa pun di Teluk Seroja.

​Jemari Arka mulai bergetar. Ia menghitung jumlah amplop di genggamannya. Ada dua belas amplop. Setiap amplop memiliki stempel pos lokal Teluk Seroja, tetapi tidak ada satu pun stempel penerimaan dari kantor pos Jakarta.

​Di sudut atas setiap amplop, terdapat tulisan tangan kecil dengan tinta merah milik almarhum Ayahnya: Gagal Dikirim - Alamat Tidak Ditemukan / Ditolak.

​Arka memutus tali rami yang mengikat tumpukan surat itu dengan sekali tarik. Tangannya meregangkan lipatan surat pertama yang bertanggal dua bulan setelah ia melarikan diri dari rumah.

Arka,

​Ibumu tidak berhenti menangis sejak kamu pergi membawa tas hijau itu. Setiap kali bus malam lewat di pertigaan jalan, dia selalu berdiri di depan pagar, berharap kamu melangkah turun dari sana.

​Aku tahu kamu membenciku. Aku tahu kamu menganggapku sebagai orang tua yang memaksakan kehendak karena melarangmu mengambil beasiswa seni itu dan menyuruhmu bekerja di perusahaan akuntansi. Tapi kamu harus paham satu hal, Arka: dunia luar tidak seindah dan semudah yang ada di dalam kepalamu. Aku hanya tidak ingin kamu kelaparan seperti yang aku alami waktu seusiamu.

​Kalau kamu membaca surat ini, kabari Ibumu. Dia tidak salah apa-apa. Jangan hukum dia atas kemarahanmu padaku.

​— Ayah

Lihat selengkapnya