Uap kabut tipis masih menggantung rendah di atas jalanan beraspal retak ketika Arka melangkah keluar dari pagar kayu rumahnya. Jam dinding di ruang tengah baru menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit. Udara pagi Teluk Seroja terasa menggigit, menyusup ke balik jaket parasit hitam yang dikenakannya.
Di dalam keranjang plastik biru yang dilingkarkan di lengannya, terselip selembar kertas catatan kecil tulisan tangan Renata beserta beberapa lembar uang kertas lusuh. Renata tidak sudi menyerahkan catatan itu secara langsung. Tadi pagi, saat Arka baru selesai membilas wajahnya di kamar mandi belakang, kertas itu sudah tergeletak di atas meja dapur, tertindih sebuah batu pemberat kecil.
Arka menyusuri jalan setapak yang menyisir garis pantai. Bau amis ikan segar dan aroma kayu bakar menyergap hidungnya begitu ia mendekati area Pasar Pagi Dermaga—sebuah hamparan lapak kayu beratap terpal warna-warni yang berdiri riuh di dekat muara.
Pasar pagi selalu menjadi jantung aktivitas Teluk Seroja. Di sinilah para nelayan menurunkan hasil tangkapan malam, sementara para wanita desa berkumpul menawar sayuran segar dan bertukar kabar.
Arka merapatkan resleting jaketnya hingga ke leher, melangkah masuk ke bawah naungan terpal pasar yang riuh oleh teriakan para pedagang. Langkah kakinya menyusuri lorong di antara beceknya lantai semen yang tergenang air es dan sisik ikan.
Ia berhenti di depan sebuah lapak sayuran yang dipenuhi tumpukan labu siam, daun bayam segar, dan cabai rawit merah. Di balik lapak, seorang wanita paruh baya berkerudung instan hijau tua—Bu Sumi, tetangga samping rumah mereka—sedang sibuk menimbang tomat.
"Permisi, Bu Sumi," kata Arka, mencoba menyunggingkan senyum seramah mungkin.
Bu Sumi mendongak. Tangannya yang sedang memegang timbangan seng mendadak terhenti di udara. Matanya membelalak lebar, mengamati wajah Arka dari ujung rambut hingga ke ujung sepatu ketsnya yang berdebu.
"Gusti Allah... Arka?" suara Bu Sumi terdengar nyaring, cukup kuat untuk membuat dua orang pembeli di sebelahnya ikut menoleh. "Ini beneran kamu, Nak?"
"Iya, Bu. Arka," jawab Arka pelan, mengangguk hormat. "Saya baru pulang dua hari lalu."
Bu Sumi meletakkan timbangannya ke atas meja kayu dengan bunyi blek yang mantap. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Arka dengan pandangan menelisik yang sarat akan penilaian—sebuah tatapan yang membuat kulit Arka terasa dingin.
"Pantas saja kemarin lusa saya lihat ada orang tinggi besar jalan lewat lorong samping," ujar Bu Sumi, nada suaranya berubah mendatar, kehilangan kehangatan yang biasa Arka ingat sewaktu kecil. "Saya kira orang dari kota mau menagih utang ke rumahmu lagi."
Dada Arka berdesir pelan. "Saya pulang karena mendengar kondisi Ibu kurang sehat, Bu."