Malam baru saja melewati puncaknya ketika langit di atas Teluk Seroja mendadak berubah menjadi gulita yang pekat. Udara dingin pesisir yang biasanya bertiup lembut perlahan mengencang, membawa aroma tanah basah dan desir angin laut yang menderu kasar.
Di dalam kamar belakang, Arka berbaring telentang di atas dipan kayu tua. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit papan yang dipenuhi bercak air mengering. Ia belum bisa memejamkan mata. Setiap kali ia mencoba memejamkan kelopak matanya, kata-kata Bu Sumi di pasar pagi tadi kembali bergema di telinganya—tentang formulir pendaftaran kuliah Renata yang dirobek, tentang hutang beras, dan tentang rasa bersalah yang menggerogoti dadanya.
Kring... krak!
Suara derak kayu bersahut-sahut dengan hantaman angin pertama yang menerjang dinding luar rumah.
Kilatan petir menyambar di kejauhan, memancarkan cahaya putih kebiruan yang menerangi kamar melalui celah tirai selama selapis detik, disusul oleh dentuman guruh yang menggetarkan kaca-kaca jendela. Hujan deras turun seketika, bukan lagi sebagai titik-titik air halus, melainkan sebagai curahan air bah yang dihantamkan angin kencang ke atas atap seng rumah panggung mereka.
Suara gemuruh hujan di atas atap seng begitu riuh, menyerupai ribuan kerikil yang dilemparkan bersamaan dari udara.
Arka mendudukkan tubuhnya di tepi dipan. Ia menyambar jaketnya saat mendengar bunyi gemerotok yang nyaring dan tak wajar dari arah depan—tepat di area kedai kopi dan perpustakaan "Dermaga Lama". Bunyi itu disusul oleh suara dentuman benda berat yang menghantam lantai papan.
Arka menyambar sebuah lampu minyak tanah di atas meja, menyalakan pemantiknya dengan jemari yang terburu-buru, lalu berlari menyusuri lorong rumah yang gelap.
"Ibu?!" panggil Arka setengah berteriak di tengah riuhnya badai.
Ia menyibak tirai kamar Ibunya sejenak. Wanita tua itu masih terbaring lelap di bawah pengaruh obat tidur dosis tinggi dari rumah sakit, meski selimutnya agak tertarik ke atas leher. Arka bernapas lega, lalu berbalik dan mendorong pintu kayu penghubung menuju ruangan kedai.
Uap dingin dan aroma basah langsung menyergap wajahnya begitu pintu terbuka.
Di dalam ruangan perpustakaan, pemandangan kacau membentang di bawah pendar redup lampu minyaknya. Salah satu lembar atap seng di sudut kanan atas telah terlepas dari paku penyangganya akibat dihantam angin badai, terangkat miring dan membiarkan curahan air hujan menerobos masuk tanpa hambatan. Air hujan mengucur deras seperti air terjun kecil, membasahi lantai papan kayu hingga tergenang dan memercik hebat ke arah rak-rak buku tua peninggalan Ayah.
"Ya Tuhan..." bisik Arka.
Di bawah kucuran air yang deras itu, sebuah figur sibuk bergerak dalam kepanikan.
Renata sudah ada di sana. Baju kaus hitam dan celemek linennya telah basah kuyup, menempel ketat di tubuhnya. Rambut sebahunya terlepas dari jepitan, jatuh terurai dan lepek menutupi sebagian wajahnya. Dengan kedua tangannya yang gemetar karena kedinginan, Renata berusaha menarik sebuah kotak kayu tebal berisi puluhan koleksi ensiklopedia tua yang beratnya tak sebanding dengan tenaga tubuhnya.
"Jangan berdiri saja di situ, Mas! Bantu aku!" teriak Renata. Suaranya melengking tinggi, nyaris tenggelam oleh gemuruh angin yang masuk melalui celah atap yang jebol.
Arka meletakkan lampu minyak di atas konter yang kering, lalu menerobos terpaan air hujan yang dingin menyengat. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia berlutut di samping Renata, menyelipkan jemarinya di bawah celah kotak kayu tebal itu, dan mengangkatnya dengan sekali dorongan tenaga.
Krak!
Suara papan kayu yang tergeser terdengar nyaring saat Arka memindahkan kotak ensiklopedia itu jauh dari jangkauan kucuran air, membawanya ke sudut ruangan dekat konter yang masih terlindung.
"Rak nomor tiga!" teriak Renata lagi seraya menyapu air hujan dari matanya dengan lengan baju yang basah. "Buku-buku sastra tua Ayah ada di sana! Kertasnya sudah rapuh, kalau kena air sedikit saja bakal hancur!"