Sinar matahari pagi menembus celah-celah atap seng perpustakaan yang baru saja dilapisi terpal darurat. Cahaya hangat itu memproyeksikan garis-garis terang menyerong di atas lantai kayu yang masih menyisakan kelembapan. Bau tanah basah berpadu dengan aroma kertas tua yang mengering perlahan, memenuhi udara kedai "Dermaga Lama" yang sunyi.
Arka melangkah masuk membawa dua piring enamel berisi pisang goreng hangat dan dua cangkir kopi hitam yang baru saja ia seduh. Tubuhnya masih terasa pegal akibat kerja keras memindahkan rak buku semalaman di tengah badai, tetapi pikirannya jauh lebih jernih daripada tiga hari lalu.
Renata sedang duduk di atas kursi jengki dekat jendela, sibuk membolak-balik lembaran buku novel tua yang agak bergelombang akibat menyerap uap air. Baju kaus longgar warna abu-abu yang dikenakannya membuat tubuhnya tampak makin tirus ditimpa cahaya pagi.
Arka meletakkan piring dan cangkir itu di atas meja kayu di antara mereka.
"Makan dulu, Re. Masih hangat," kata Arka pelan.
Renata menoleh. Ia tidak langsung meraih pisang goreng itu, melainkan menatap jemari tangan Arka yang dipenuhi bekas goresan kecil dan noda hitam paku seng semalam. Tatapannya tidak lagi setajam biasanya, melainkan menyimpan guratan kelelahan yang dalam.
"Terima kasih," gumam Renata, menyisipkan helai rambutnya ke belakang telinga lalu mengambil sepotong pisang goreng.
Arka duduk di kursi kayu di hadapan adiknya. Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di Teluk Seroja, mereka berdua duduk berhadapan tanpa ada kepanikan badai, tanpa ada tugas dapur yang terburu-buru, dan tanpa ada dinding pertahanan yang langsung dipasang rapat-rapat.
"Mas..." panggil Renata pelan, matanya menatap uap tipis yang membumbung dari cangkir kopinya. "Kenapa waktu itu kamu benar-benar memutus semua kontak?"
Pertanyaan itu meluncur tenang, tanpa bentakan atau nada menyalahkan, tetapi justru itulah yang membuat dada Arka terasa dihantam beban berat. Pertanyaan sederhana yang selama lima tahun ini selalu ingin dihindari Arka.
Arka menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, menatap keluar jendela tempat ombak Teluk Seroja bergulung pelan menghantam dermaga.
"Aku takut, Re," jawab Arka jujur, suaranya mengalir rendah. "Waktu itu aku benar-benar merasa kerdil di rumah ini."
Renata mengerutkan dahinya sedikit, menatap abangnya dengan kening berkerut. "Takut? Kamu anak laki-laki sulung, Mas. Ayah selalu membanggakan kamu di depan orang-orang pasar."