Pulang ke Garis Pesisir

Mario Moses Alexander Resimau
Chapter #8

Kenangan di Atas Perahu Tua

​Angin pagi di muara Teluk Seroja berembus membawa aroma garam yang pekat berbaur bau lumpur bakau yang basah. Di atas permukaan air yang tenang dan memantulkan pendar jingga keemasan, beberapa perahu nelayan tradisional tampak menari pelan terikat pada tiang-tiang bambu dermaga.

​Arka berjalan menyusuri bentangan papan kayu dermaga yang lapuk. Di tangannya, ia menjinjing sebuah kotak perkakas besi tua berwarna hijau yang cukup berat, berisi palu, paku keling, pasak kayu, dan sebotol serat damar pembalut kebocoran.

​Di belakangnya, Renata melangkah mantap seraya memanggul digulungan jaring nilon tebal warna biru di bahunya.

​Langkah kaki mereka terhenti di ujung dermaga terkecil—tempat sebuah perahu kayu jenis sampan berukuran lima meter bersandar. Lambung perahu yang dicat warna biru tua itu sudah banyak terkelupas oleh gesekan karang dan korosi air asin. Di bagian depan lambungnya, pudar oleh cuaca, masih terbaca samar tulisan tangan yang diukir menggunakan cat putih: "Seroja Mas".

​Itu adalah perahu buatan tangan almarhum Ayah mereka dua belas tahun lalu—perahu yang dinamai dari gabungan nama Teluk Seroja dan sapaan hangat Ayah untuk anak sulungnya, Mas Arka, sebagai simbol bahwa perahu ini dibuat untuk menjaga keduanya.

​"Mesin tempelnya sudah dijual dua tahun lalu, Mas," kata Renata pelan seraya menurunkan gulungan jaring ke atas papan dermaga dengan bunyi buk yang tebal. "Waktu itu biaya pengobatan Ayah membengkak di Rumah Sakit Daerah. Aku terpaksa jual mesinnya ke Pak Usman seharga dua juta."

​Arka memandangi ruang kosong di bagian buritan tempat dudukan mesin tempel seharusnya berada. Ia memutar tubuhnya, memanjat melompati tepi lambung perahu yang licin, lalu melangkah masuk ke dalam bagian tengah kapal kayu yang agak berair.

​"Perahunya masih kokoh, Re," kata Arka seraya berlutut mengamati bilah-bilah kayu jati yang menyusun dinding dalam perahu. "Kayu jati tua pilihan Ayah memang beda. Cuma ada dua celah kecil di dekat gading-gading bawah yang rembes."

​Renata menyusul masuk ke dalam perahu, membuat lambung perahu berayun pelan membelah riak air muara. Ia duduk di atas bangku kayu tengah yang sudah dihaluskan oleh gesekan pakaian selama bertahun-tahun.

​"Dulu, waktu kamu masih SMP," bisik Renata seraya meraba permukaan kayu bangku yang ia duduki, "tiap hari Minggu pagi, Ayah selalu mengajak kita bertiga dayung perahu ini ke dekat bukit karang di utara. Kamu ingat, Mas?"

​Arka tersenyum tipis, matanya menatap paku-paku kuningan tua di lantai perahu.

​"Mana mungkin aku lupa," jawab Arka, mengambil pahat kayu kecil dan mulai membersihkan lumut kering di celah papan yang bocor. "Kamu waktu itu masih delapan tahun, selalu nangis tiap kali ada ombak besar yang menyiram bagian depan perahu. Dan Ayah selalu kasih kamu es lilin rasa kacang hijau supaya kamu diam."

​Renata tertawa pelan—sebuah tawa renyah yang rasanya sudah bertahun-tahun tidak pernah Arka dengar.

​"Aku bukan takut ombaknya, Mas," sanggah Renata, wajahnya merona tipis disiram sinar matahari pagi. "Aku takut karena kamu sengaja goyang-goyangkan perahunya dari belakang. Kamu itu abang yang jahil sekali waktu kecil."

Lihat selengkapnya